- Variable costing hanya memasukkan biaya produksi variabel ke dalam HPP, sementara overhead pabrik tetap dicatat sebagai beban periode. Sebaliknya, full costing memasukkan seluruh biaya produksi, termasuk overhead tetap.
- Full costing digunakan untuk pelaporan keuangan eksternal sesuai standar akuntansi yang berlaku, sedangkan variable costing dipakai sebagai alat analisis internal, seperti menghitung titik impas dan margin kontribusi.
- Mekari POS sebagai solusi multi-industri berbasis cloud yang dirancang khusus untuk bisnis retail, F&B, dan jasa membantu bisnis mencatat penjualan per produk dan menghitung COGS berdasarkan penggunaan bahan baku, sehingga data biaya variabel untuk analisis margin lebih mudah disiapkan.
Memilih metode penghitungan biaya produksi yang tepat membantu Anda menentukan biaya per unit, menilai profitabilitas produk, dan mengambil keputusan bisnis. Dua metode yang umum digunakan adalah variable costing dan full costing, yang memiliki perbedaan dalam perlakuan biaya overhead pabrik tetap.
Artikel ini membahas pengertian metode variable costing, rumus dan cara menghitungnya, perbedaannya dengan full costing, serta contoh laporan laba rugi menggunakan kedua metode.
Apa itu variable costing?
Variable costing adalah metode penghitungan biaya produksi yang hanya memasukkan biaya produksi variabel ke dalam harga pokok produksi (HPP). Komponen tersebut meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung yang bersifat variabel, dan biaya overhead pabrik variabel.
Sementara itu, biaya overhead pabrik tetap tidak termasuk ke dalam HPP produk, tetapi langsung tercatat sebagai beban pada periode terjadinya.
Metode variable costing berguna untuk analisis internal, seperti mengevaluasi margin kontribusi dan menilai profitabilitas produk untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
Investopedia menilai variable costing dapat lebih berguna untuk keputusan manajemen, terutama analisis titik impas untuk mengetahui jumlah unit yang harus terjual agar usaha mencapai profitabilitas.
Pemisahan biaya tetap dan variabel pada metode ini membuat perhitungan titik impas lebih langsung.
Apa itu full costing?
Full costing atau absorption costing adalah metode penghitungan biaya produksi yang memasukkan seluruh biaya produksi, baik variabel maupun tetap, ke dalam HPP.
Komponennya meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik tetap.
Dengan memasukkan seluruh biaya produksi ke dalam HPP, metode ini membantu perusahaan menghitung biaya produksi secara menyeluruh, termasuk bagian biaya overhead tetap yang telah teralokasi ke setiap unit produk.
Perbedaan full costing dan variable costing
Berikut rangkuman perbedaan utama keduanya.
| Aspek | Full Costing | Variable Costing |
|---|---|---|
| Biaya bahan baku | Dimasukkan | Dimasukkan |
| Biaya tenaga kerja langsung | Dimasukkan | Dimasukkan |
| Overhead pabrik variabel | Dimasukkan | Dimasukkan |
| Overhead pabrik tetap | Dimasukkan ke harga pokok produksi | Dicatat sebagai beban periode, bukan harga pokok produksi |
| Tujuan utama | Pelaporan keuangan eksternal | Analisis dan pengambilan keputusan internal |
| Pengaruh ke laba saat stok menumpuk | Laba bisa lebih tinggi karena sebagian biaya tetap “tersimpan” di nilai persediaan | Laba lebih mencerminkan kondisi penjualan aktual periode berjalan |
Rumus dan cara menghitung variable costing
Penghitungan dengan metode variable costing dimulai dengan mengidentifikasi seluruh biaya produksi yang berubah mengikuti volume produksi. Setelah itu, jumlahkan biaya tersebut untuk mengetahui total biaya produksi variabel dan biaya per unit.
1. Rumus variable costing
Rumus dasar untuk menghitung total biaya produksi menggunakan metode variable costing adalah:
Total biaya produksi variabel = Biaya bahan baku langsung + Biaya tenaga kerja langsung variabel + Biaya overhead pabrik variabel
Untuk mengetahui biaya produksi variabel per unit, gunakan rumus berikut:
Biaya produksi variabel per unit = Total biaya produksi variabel ÷ Jumlah unit yang diproduksi
Biaya overhead pabrik tetap tidak termasuk dalam kedua perhitungan tersebut, dan tercatat sebagai beban periode berjalan.
2. Contoh perhitungan variable costing
Misalnya, sebuah perusahaan memproduksi 1.000 unit produk dengan rincian biaya berikut:
- Biaya bahan baku langsung: Rp10.000.000
- Biaya tenaga kerja langsung variabel: Rp8.000.000
- Biaya overhead pabrik variabel: Rp2.000.000
- Biaya overhead pabrik tetap: Rp5.000.000
Penghitungannya adalah:
Total biaya produksi variabel
Rp10.000.000 + Rp8.000.000 + Rp2.000.000 = Rp20.000.000
Biaya produksi variabel per unit
Rp20.000.000 ÷ 1.000 unit = Rp20.000 per unit
Dengan demikian, biaya produksi variabel untuk setiap unit adalah Rp20.000. Biaya overhead pabrik tetap sebesar Rp5.000.000 tercatat sebagai beban periode, bukan sebagai bagian dari biaya produksi per unit.
Kapan sebaiknya menggunakan variable costing dan full costing?
Pemilihan metode bergantung pada tujuan penghitungan biaya dan kebutuhan pelaporan perusahaan.
- Gunakan full costing untuk menghitung biaya produksi secara menyeluruh, menilai persediaan, dan menyusun laporan keuangan eksternal sesuai standar akuntansi yang berlaku.
- Gunakan variable costing untuk analisis internal, seperti menghitung titik impas, mengevaluasi margin kontribusi, menentukan strategi harga, dan menilai kelayakan produk atau pesanan tambahan.
Kelebihan dan kekurangan variable costing
Metode variable costing membantu perusahaan memahami hubungan antara biaya variabel, volume penjualan, dan keuntungan.
Kelebihan variable costing:
- Mendukung keputusan harga: Membantu perusahaan menganalisis biaya variabel dan margin kontribusi sebagai dasar penetapan harga.
- Memudahkan analisis titik impas: Memisahkan biaya variabel dan biaya tetap sehingga perusahaan dapat menghitung volume penjualan minimum untuk mencapai titik impas.
- Mempermudah evaluasi produk: Membantu membandingkan kontribusi setiap produk terhadap penutupan biaya tetap dan pembentukan laba.
Kekurangan variable costing:
- Tidak mencakup seluruh biaya produksi dalam HPP: Biaya overhead pabrik tetap tidak teralokasikan ke produk sehingga HPP tidak mencerminkan seluruh biaya produksi.
- Kurang sesuai untuk penilaian persediaan eksternal: Hasil penilaian persediaannya tidak mencakup overhead pabrik tetap menjadisyarat wajib dalam metode penilaian persediaan untuk pelaporan keuangan yang berlaku.
- Memerlukan klasifikasi biaya yang tepat: Perusahaan perlu membedakan biaya variabel dan tetap secara konsisten agar hasil analisis lebih efektif
Contoh laporan laba rugi variable costing dan full costing
Untuk memahami perbedaan hasil kedua metode, perhatikan contoh perusahaan yang memproduksi dan menjual 1.000 unit produk dalam satu bulan. Harga jual produk adalah Rp50.000 per unit, sehingga total penjualan mencapai Rp50.000.000.
Data biaya produksi dan operasional perusahaan adalah sebagai berikut:
- Biaya bahan baku langsung: Rp10.000.000
- Biaya tenaga kerja langsung variabel: Rp8.000.000
- Biaya overhead pabrik variabel: Rp2.000.000
- Biaya overhead pabrik tetap: Rp5.000.000
- Biaya penjualan dan administrasi: Rp3.000.000
Dalam contoh ini, seluruh unit yang diproduksi terjual pada periode yang sama. Biaya penjualan dan administrasi diasumsikan sebagai beban periode sebesar Rp3.000.000.
1. Laporan laba rugi metode full costing
Pada metode full costing, seluruh biaya produksi, termasuk overhead pabrik tetap, masuk ke dalam HPP.
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Penjualan (1.000 × Rp50.000) | Rp50.000.000 |
| HPP (Rp10.000 + Rp8.000 + Rp2.000 + Rp5.000 per unit) | Rp25.000.000 |
| Laba kotor | Rp25.000.000 |
| Biaya penjualan dan administrasi | Rp3.000.000 |
| Laba operasi | Rp22.000.000 |
2. Laporan laba rugi metode variable costing
Pada metode variable costing, HPP hanya mencakup biaya produksi variabel. Overhead pabrik tetap langsung dicatat sebagai beban periode.
| Komponen | Jumlah |
|---|---|
| Penjualan (1.000 × Rp50.000) | Rp50.000.000 |
| HPP variabel | Rp20.000.000 |
| Margin kontribusi | Rp30.000.000 |
| Overhead pabrik tetap | Rp5.000.000 |
| Biaya penjualan dan administrasi | Rp3.000.000 |
| Laba operasi | Rp22.000.000 |
Pada contoh tersebut, laba operasi kedua metode sama-sama sebesar Rp22.000.000 karena seluruh produk yang diproduksi terjual habis pada periode yang sama.
Jika masih ada persediaan produk jadi di akhir periode, hasil laba kedua metode dapat berbeda. Pada full costing, sebagian overhead pabrik tetap melekat pada nilai persediaan produk yang belum terjual.
Sebaliknya, pada variable costing, seluruh overhead pabrik tetap dibebankan pada periode terjadinya. Akibatnya, laba kedua metode bisa berbeda meskipun perusahaan memiliki aktivitas produksi dan penjualan yang sama.
Siapkan data biaya dan penjualan per produk dengan Mekari POS
Analisis variable costing membutuhkan dua data utama, yaitu biaya variabel per unit dan volume penjualan setiap produk. Pada bisnis F&B dengan banyak menu, biaya bahan baku per produk bisa berubah mengikuti harga bahan dan pemakaian di dapur. Jika data ini dicatat manual, perhitungan margin kontribusi dan titik impas berisiko tidak akurat.
Mekari POS adalah solusi multi-industri berbasis cloud yang dirancang khusus untuk bisnis retail, F&B, dan jasa. Melalui solusi POS untuk restoran, Mekari POS membantu bisnis mencatat biaya bahan baku dan penjualan per produk secara konsisten sebagai dasar analisis biaya. Berikut fitur yang dapat dimanfaatkan:
- Standardisasi resep dan takaran bahan baku: Tetapkan takaran bahan untuk setiap menu, sehingga biaya bahan baku per produk lebih terstandar.
- Perhitungan COGS otomatis: COGS dihitung otomatis sesuai penggunaan bahan baku setiap kali menu terjual, sehingga biaya variabel per produk lebih mudah ditelusuri.
- Laporan performa per menu: Pantau omzet, jumlah transaksi, dan performa setiap menu sebagai dasar menghitung margin kontribusi per produk.
- Stok bahan baku real-time: Stok bahan berkurang otomatis berdasarkan resep, sehingga selisih penggunaan bahan dapat terdeteksi lebih cepat.
- Ekspor laporan ke Excel: Unduh laporan untuk kebutuhan analisis lanjutan, seperti simulasi titik impas atau perbandingan metode perhitungan biaya.
- Integrasi Mekari Jurnal: Sinkronkan penjualan dan COGS ke Mekari Jurnal untuk penyusunan laporan keuangan yang lebih rapi dan akurat.
Saatnya siapkan data biaya dan penjualan per produk yang lebih akurat untuk analisis bisnis bersama Mekari POS.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
