- Usaha kecil menengah (UKM) adalah usaha produktif yang berdiri sendiri dengan omzet tahunan lebih dari Rp2 miliar sampai Rp50 miliar, di atas skala usaha mikro.
- Usaha kecil dan menengah hanya sekitar 0,3% dari lebih 30,2 juta UMKM non-pertanian di Indonesia per akhir 2025.
- Mekari POS adalah solusi multi-industri berbasis cloud untuk bisnis F&B, retail, dan jasa, yang membantu usaha kecil menengah mengelola transaksi, stok, dan performa seluruh cabang dari satu dasbor terpusat.
Usaha Anda sudah melewati fase warung dan gerobak: karyawan bertambah, outlet mulai dua atau tiga, tetapi pencatatan masih seperti dulu. Pada titik ini, memahami posisi usaha di skala kecil atau menengah membantu menentukan langkah berikutnya.
Artikel ini membahas pengertian UKM, kriteria resminya, 25 contoh usaha kecil menengah, hingga cara mengembangkannya.
Apa itu usaha menengah?
Usaha menengah merupakan kategori bisnis produktif yang dijalankan oleh individu maupun badan usaha dengan kapasitas operasional dan nilai ekonomi yang lebih besar daripada usaha kecil. Berdasarkan PP No. 7 Tahun 2021, kategori ini mencakup bisnis dengan modal usaha di atas Rp5 miliar sampai Rp10 miliar, di luar tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki penjualan tahunan di atas Rp15 miliar hingga Rp50 miliar.
Dari sisi operasional, bisnis menengah biasanya sudah menerapkan sistem kerja yang lebih terstruktur, mulai dari pembagian tanggung jawab hingga pengelolaan sumber daya manusia. Skala bisnis ini juga memungkinkan perusahaan menjangkau lebih banyak pelanggan, memperluas jaringan distribusi, serta mengembangkan pasar hingga ke luar negeri.
Rinciannya, tercatat 73.828 usaha kecil dan 15.313 usaha menengah, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah usaha mikro. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa proses naik kelas dari skala mikro ke kecil atau menengah masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha, terutama dalam hal permodalan, pengelolaan operasional, dan perluasan pasar.
Kriteria usaha kecil dan usaha menengah menurut aturan terbaru
Kriteria skala usaha di Indonesia diatur dalam PP Nomor 7 Tahun 2021 Pasal 35 dan 36. Penilaiannya menggunakan modal usaha untuk pendirian atau pendaftaran, serta penjualan tahunan untuk pemberdayaan UMKM.
| Skala usaha | Modal usaha (di luar tanah dan bangunan) | Hasil penjualan tahunan |
| Mikro (pembanding) | Maksimal Rp1 miliar | Maksimal Rp2 miliar |
| Kecil | Lebih dari Rp1 miliar sampai Rp5 miliar | Lebih dari Rp2 miliar sampai Rp15 miliar |
| Menengah | Lebih dari Rp5 miliar sampai Rp10 miliar | Lebih dari Rp15 miliar sampai Rp50 miliar |
Perbedaan usaha kecil dan usaha menengah dalam praktik
Selain batas modal dan omzet, usaha kecil dan menengah punya profil yang berbeda dibanding usaha mikro. Berikut perbedaan di antara usaha kecil dan usaha menengah.
| Indikator | Mikro | Kecil | Menengah |
| Jumlah unit usaha | 30.119.928 | 73.828 | 15.313 |
| Sudah memiliki NIB | 1,79% | 14,80% | 13,00% |
| Berbentuk PT | 0,49% | 20,96% | 29,86% |
| Tenaga kerja yang dibayar | 31,02% | 87,57% | 96,94% |
Pola ini menunjukkan makin besar skala usaha, makin tinggi tingkat formalitas dan profesionalisme operasionalnya. Meski begitu, mayoritas usaha kecil dan menengah masih belum memiliki NIB.
10 contoh usaha menengah
Berikut 10 contoh usaha menengah dari berbagai sektor yang bisa menjadi inspirasi bisnis. Pelajari peluangnya untuk menentukan usaha Anda.
1. Distributor sembako dan kebutuhan pokok
Menyalurkan beras, gula, minyak goreng, dan produk kebutuhan sehari-hari ke berbagai toko ritel. Skala menengahnya ditandai dengan gudang sendiri, armada pengiriman, tim sales, dan jaringan pelanggan di beberapa wilayah.
2. Jaringan minimarket atau supermarket lokal
Mengelola beberapa gerai ritel dengan ribuan SKU dan sistem pengadaan barang yang terkoordinasi. Operasionalnya melibatkan staf di setiap cabang, pengelolaan stok terpusat, dan kerja sama langsung dengan pemasok besar.
3. Restoran atau rumah makan multicabang
Menjalankan sejumlah outlet dengan standar menu, pelayanan, dan operasional yang seragam. Bisnis ini membutuhkan tim dapur dan layanan yang terorganisasi, pengadaan bahan baku rutin, serta pemantauan kinerja setiap cabang.
4. Katering korporat dan skala besar
Menyediakan makanan untuk kantor, rumah sakit, acara perusahaan, atau pesta dalam jumlah besar. Ciri skala menengahnya meliputi dapur produksi khusus, puluhan tenaga kerja, kontrak pelanggan rutin, dan sistem distribusi terjadwal.
5. Produsen makanan ringan dan oleh-oleh
Memproduksi keripik, kue kering, atau camilan khas daerah untuk dipasarkan ke berbagai kota. Usaha ini biasanya memiliki fasilitas produksi, tenaga kerja tetap, perizinan produk, serta jaringan distributor atau reseller.
6. Konveksi dan produsen garmen
Memproduksi pakaian, seragam perusahaan, atau busana untuk merek tertentu dalam jumlah besar. Skala menengahnya terlihat dari penggunaan mesin industri, puluhan tenaga kerja, kapasitas produksi rutin, dan kontrak dengan klien bisnis.
7. Produsen furnitur
Menghasilkan mebel kayu atau logam untuk kebutuhan rumah tangga, perkantoran, hotel, maupun proyek komersial. Operasionalnya mencakup fasilitas produksi, tenaga kerja terampil, pengadaan bahan baku, dan jaringan distribusi yang lebih luas.
8. Hotel atau penginapan berskala menengah
Mengelola puluhan kamar dengan layanan resepsionis, housekeeping, dan fasilitas pendukung seperti restoran atau ruang pertemuan. Bisnis ini membutuhkan pembagian tugas yang jelas, pengelolaan reservasi, serta koordinasi operasional antardepartemen.
9. Jasa logistik dan ekspedisi regional
Melayani pengiriman barang untuk perusahaan, distributor, dan pelaku e-commerce di beberapa kota. Usaha ini dapat mencakup armada pengiriman, gudang transit, tim operasional, dan kontrak kerja sama dengan pelanggan bisnis.
10. Agensi kreatif dan pemasaran digital
Menyediakan layanan desain, produksi konten, pengelolaan media sosial, hingga kampanye iklan bagi perusahaan. Pada skala menengah, agensi memiliki tim spesialis tetap, portofolio klien korporat, dan kontrak layanan jangka panjang.
Tantangan operasional saat usaha naik ke skala menengah
Naik ke skala menengah berarti volume transaksi, hingga jumlah outlet ikut bertambah. Berikut beberapa tantangan operasional yang umum dihadapi saat usaha mulai naik kelas:
1. Perencanaan bisnis yang belum terstruktur
Banyak pemilik usaha memiliki ide yang bagus, tetapi belum memiliki rencana yang jelas untuk menjalankannya. Pada skala menengah, keputusan seperti membuka cabang baru, menambah produk, atau menetapkan harga perlu didasarkan pada riset kebutuhan pelanggan bukan sekadar intuisi.
2. Keuangan pribadi dan usaha masih tercampur
Kebiasaan menggunakan satu rekening untuk kebutuhan pribadi dan bisnis membuat arus kas sulit dipantau dan laporan keuangan tidak akurat. Saat skala usaha membesar, pemisahan rekening menjadi semakin penting, terutama ketika pembayaran dari pelanggan masuk melalui berbagai kanal.
3. Arus kas yang kurang terkontrol
Usaha bisa terlihat untung di atas kertas, tetapi tersendat karena arus kas tidak sehat. Tanpa pencatatan rutin, anggaran bulanan, dan dana cadangan, bisnis berisiko kesulitan membayar pemasok, gaji karyawan, atau biaya operasional saat penjualan sedang menurun.
4. Keuntungan tidak dialokasikan untuk pengembangan
Keuntungan yang lebih banyak digunakan untuk kebutuhan pribadi membuat usaha sulit berkembang. Pada tahap ini, sebagian laba sebaiknya diinvestasikan kembali untuk peralatan, sistem, ekspansi, serta peningkatan kualitas produk dan layanan.
5. Promo dan diskon tanpa perhitungan
Diskon yang terlalu sering diberikan tanpa perhitungan margin dapat menggerus keuntungan. Selain itu, pelanggan bisa terbiasa menunggu promo sehingga nilai brand di mata mereka menurun.
6. Pemilik masih menangani semua pekerjaan sendiri
Mengurus produksi, penjualan, stok, hingga pemasaran seorang diri mungkin masih bisa dilakukan saat usaha kecil. Namun, pada skala menengah, pemilik perlu mulai mendelegasikan pekerjaan kepada tim agar operasional tidak bergantung pada satu orang.
7. Menjaga kualitas layanan tetap konsisten
Semakin banyak pelanggan dan outlet, semakin sulit menjaga standar layanan tetap sama. Respons terhadap keluhan dan ulasan pelanggan yang cepat menjadi kunci untuk mempertahankan loyalitas, apalagi ulasan negatif kini mudah tersebar secara online.
8. Kurang terbuka terhadap masukan
Merasa sudah memahami semua aspek bisnis dapat menghambat pertumbuhan. Usaha yang naik kelas perlu terbuka terhadap masukan dari tim, pelanggan, maupun tenaga profesional seperti akuntan, perencana keuangan, atau konsultan bisnis.
Cara mengembangkan usaha menengah
Mengembangkan usaha menengah membutuhkan sistem kerja yang lebih terstruktur. Berikut enam strategi yang bisa diterapkan.
1. Rapikan legalitas dan badan usaha
Pastikan usaha memiliki NIB dan pertimbangkan berbadan hukum seperti CV atau PT saat skala membesar. Kementerian UMKM menyebut NIB sebagai prasyarat penting untuk mengakses pembiayaan, program pemerintah, dan memperluas pasar.
2. Pisahkan dan rapikan pencatatan keuangan
Pisahkan rekening pribadi dan usaha, lalu catat setiap transaksi, stok, dan biaya secara konsisten. Laporan yang rapi memudahkan Anda membaca margin per produk atau cabang dan menjadi bekal saat mengajukan pembiayaan.
3. Bangun sistem operasional dan tim
Susun SOP tertulis, tetapkan pembagian tanggung jawab, dan terapkan sistem penggajian yang jelas. Struktur kerja yang terorganisasi membantu setiap karyawan memahami tugasnya, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung bisnis agar lebih siap berkembang.
4. Perluas kanal penjualan dan pemasaran digital
Kementerian UMKM menyebutkan bahwa baru 35,62% usaha kecil yang memanfaatkan pemasaran digital, sementara pemasaran non-digital masih mendominasi usaha kecil maupun menengah. Data ini menunjukkan bahwa pemanfaatan kanal digital masih bisa ditingkatkan untuk membantu bisnis menjangkau pelanggan baru di luar pasar konvensional.
5. Ekspansi bertahap lewat cabang atau kemitraan
Tambah cabang atau buka kemitraan setelah satu outlet terbukti stabil dan SOP-nya bisa diduplikasi. Jangan memperbanyak lokasi sebelum data penjualan dan stok tiap outlet bisa dipantau dengan jelas.
6. Manfaatkan pembiayaan dengan perhitungan matang.
Gunakan pinjaman modal kerja atau investasi untuk kebutuhan yang jelas hasilnya, seperti menambah mesin atau stok produk laris. Hitung dulu arus kas dan titik balik modalnya agar cicilan tidak menggerus keuntungan.
Kembangkan usaha kecil menengah Anda dengan Mekari POS
Ketika jumlah outlet bertambah dan tim semakin besar, pencatatan penjualan menggunakan buku nota atau spreadsheet terpisah di setiap cabang bisa menyulitkan pemantauan operasional. Proses ini juga berisiko menimbulkan keterlambatan pembaruan data dan kesalahan pencatatan yang berdampak pada pengambilan keputusan bisnis.
Mekari POS adalah solusi multi-industri berbasis cloud untuk bisnis F&B, retail, dan jasa yang membantu mengelola transaksi, stok, serta performa setiap cabang melalui satu dasbor terpusat. Dengan data operasional yang lebih terorganisasi, Anda dapat memantau perkembangan bisnis, mengevaluasi kinerja outlet, dan menjaga konsistensi operasional seiring pertumbuhan usaha.
Dengan data penjualan dan stok yang tersentral, Anda bisa membaca performa tiap outlet, menyiapkan laporan untuk pembiayaan, dan memutuskan ekspansi berdasarkan angka, bukan firasat. Selain itu, Mekari POS juga dilengkapi berbagai keunggulan berikut.
- Transaksi cepat dan akurat: Mendukung berbagai metode pembayaran termasuk QRIS, kartu, dan e-wallet dalam satu alur kasir yang tetap lancar saat transaksi bertambah.
- Manajemen stok real-time: Memantau ketersediaan barang di semua outlet agar stok tidak kosong atau menumpuk saat usaha membesar.
- Laporan bisnis: Menyajikan data penjualan per outlet dan produk secara otomatis sebagai dasar evaluasi, pembiayaan, dan ekspansi.
- Program loyalitas: Membantu membangun pelanggan tetap melalui skema membership dan poin yang fleksibel.
- Integrasi ekosistem Mekari (Desty + Jurnal): Menyinkronkan data transaksi ke Mekari Jurnal untuk pembukuan otomatis dan ke Mekari Desty untuk penjualan omnichannel.
- Manajemen multicabang: Mengontrol harga, stok, dan performa seluruh cabang dari satu dasbor terpusat.
Siap membawa usaha kecil menengah Anda naik ke level berikutnya dengan sistem yang rapi? Mulai pertumbuhan bisnis dan kelola seluruh operasional dari satu platform yang terintegrasi dengan Mekari POS!
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References
References
Pemerintah Republik Indonesia. “Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah”
OCBC NISP. “6 Ide Usaha Kecil Menengah yang Menjanjikan, dan Modal Kecil”
