- MPS atau Master Production Schedule adalah alat perencanaan yang menentukan produk apa yang perlu diproduksi, berapa jumlahnya, dan kapan harus diproduksi dalam periode tertentu, menjadi jembatan antara perkiraan permintaan dari tim penjualan dan kemampuan produksi yang dimiliki bisnis.
- Tanpa MPS, bisnis F&B yang memiliki komponen produksi berisiko terus-menerus salah memperkirakan kebutuhan produksi, baik terlalu sedikit yang berujung kehabisan stok maupun terlalu banyak yang menyebabkan pemborosan bahan baku.
- Mekari POS hadir sebagai solusi multi-industri berbasis cloud untuk bisnis F&B, retail, dan jasa, yang membantu bisnis F&B mencatat data penjualan setiap produk secara detail dan real-time, sehingga tersedia dasar data historis yang akurat untuk menyusun perkiraan permintaan dan rencana produksi yang lebih terukur.
Bagi bisnis F&B yang memiliki komponen produksi, seperti bakery, katering, maupun dapur pusat yang memasok banyak outlet, menentukan berapa banyak yang perlu diproduksi setiap harinya sering kali terasa seperti menebak-nebak. Terlalu sedikit berisiko kehabisan stok, terlalu banyak berisiko menyisakan bahan yang terbuang. Di sinilah konsep MPS berperan penting.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari MPS adalah apa, manfaatnya bagi perusahaan, input yang dibutuhkan untuk menyusunnya, contoh perhitungannya, tips mengelolanya secara efektif, hingga perbedaannya dengan MRP.
Apa itu Master Production Schedule (MPS)?

MPS adalah singkatan dari Master Production Schedule, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut jadwal induk produksi. MPS merupakan alat perencanaan yang digunakan untuk menentukan produk apa yang perlu diproduksi, berapa jumlahnya, dan kapan produksi tersebut perlu dilakukan.
Berbeda dari jadwal kerja harian yang mengatur detail aktivitas produksi, MPS memberikan gambaran pada tingkat yang lebih tinggi. MPS membantu perusahaan menyelaraskan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan produksi dalam periode tertentu.
Menurut APICS Dictionary yang menjadi rujukan standar di industri supply chain, tujuan utama MPS adalah menerjemahkan perkiraan penjualan menjadi rencana produksi yang benar-benar dapat dijalankan organisasi.
MPS mewakili sisi permintaan dalam persamaan produksi, sehingga harus benar-benar mencerminkan kebutuhan pelanggan, bukan sekadar target internal yang terpisah dari realita pasar.
Karena itu, MPS dalam perusahaan dapat menjadi penghubung antara departemen penjualan, produksi, dan pengadaan. Tim penjualan memberikan informasi mengenai perkiraan permintaan dan pesanan yang masuk, sementara tim produksi menggunakan informasi tersebut untuk menentukan rencana produksi yang realistis.
MPS paling umum digunakan dalam lingkungan make-to-stock, ketika perusahaan memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan. Tetapi, konsep ini juga dapat digunakan dalam make-to-order maupun mixed-mode manufacturing, terutama ketika bisnis perlu menyeimbangkan produk standar dan pesanan khusus pelanggan.
Manfaat MPS bagi perusahaan
Penerapan MPS tidak hanya membantu menentukan jadwal produksi. Berikut beberapa manfaat MPS bagi perusahaan:
1. Menjadi dasar perkiraan permintaan yang lebih akurat
MPS membantu perusahaan membandingkan perkiraan penjualan dengan hasil aktual dari waktu ke waktu. Dari perbandingan tersebut, perusahaan dapat memperbaiki forecast dan membuat rencana produksi berikutnya dengan lebih tepat.
2. Membantu menentukan level inventaris yang ideal
Dengan mengetahui jumlah produk yang perlu dibuat dan waktu produksinya, bisnis dapat mengurangi risiko stockout maupun overstock. Stok dapat disiapkan sesuai kebutuhan tanpa terus menumpuk di gudang.
3. Menjadi input untuk perencanaan kebutuhan bahan baku
MPS membantu menentukan berapa banyak bahan baku atau komponen yang dibutuhkan untuk memenuhi rencana produksi. Informasi ini dapat digunakan tim pengadaan untuk mengatur pembelian dan waktu kedatangan bahan.
4. Mendukung perencanaan kebutuhan tenaga kerja
Rencana produksi memberikan gambaran mengenai beban kerja yang akan dihadapi tim. Perusahaan dapat menggunakannya untuk menentukan jumlah tenaga kerja, pembagian shift, maupun kebutuhan tambahan staf pada periode tertentu.
5. Membantu mengoptimalkan kapasitas produksi
MPS memungkinkan perusahaan melihat apakah kapasitas mesin, fasilitas, dan tenaga kerja cukup untuk memenuhi rencana produksi. Jika terdapat potensi bottleneck, penyesuaian dapat dilakukan sebelum produksi dimulai.
6. Memudahkan estimasi biaya produksi
Dengan mengetahui volume produksi yang direncanakan, perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan bahan, tenaga kerja, dan penggunaan peralatan. Hal ini membantu memberikan gambaran biaya produksi sebelum aktivitas berlangsung.
7. Mendukung proyeksi keuangan
Rencana produksi dapat menjadi salah satu input untuk memperkirakan pendapatan, pengeluaran, dan kebutuhan arus kas. Dengan demikian, tim keuangan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan dana untuk mendukung operasional.
8. Membantu perencanaan rekrutmen
Jika MPS menunjukkan adanya peningkatan produksi dalam periode tertentu, tim HR dapat mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja lebih awal. Hal ini membantu perusahaan menghindari kekurangan staf ketika volume produksi meningkat.
9. Meningkatkan kepuasan pelanggan
Produksi yang direncanakan dengan baik membantu memastikan produk tersedia sesuai kebutuhan dan pesanan dapat dipenuhi tepat waktu. Konsistensi ini penting untuk menjaga pengalaman dan kepercayaan pelanggan.
10. Menetapkan tujuan produksi yang jelas
MPS memberikan target produksi yang spesifik untuk setiap periode. Dengan adanya target yang jelas, tim dapat bekerja berdasarkan rencana yang sama dan lebih mudah mengevaluasi pencapaiannya.
Input yang dibutuhkan dalam menyusun MPS
Untuk menyusun MPS yang efektif, berikut input dasar yang perlu dipersiapkan:
1. Stok awal
Stok awal menunjukkan jumlah unit produk yang sudah tersedia pada awal periode perencanaan. Data ini membantu perusahaan menentukan berapa banyak produk tambahan yang masih perlu diproduksi.
2. Perkiraan permintaan (demand forecast)
Demand forecast menunjukkan perkiraan jumlah produk yang akan dibutuhkan atau terjual selama periode tertentu. Perkiraan ini dapat dibuat berdasarkan riwayat penjualan, tren permintaan, dan faktor musiman.
3. Pesanan yang sudah pasti (order portfolio)
Selain menggunakan perkiraan, MPS juga perlu memperhitungkan pesanan yang sudah dikonfirmasi. Data tersebut memberikan gambaran mengenai permintaan yang memang sudah harus dipenuhi oleh perusahaan.
4. Jumlah yang perlu diproduksi
Setelah memperhitungkan stok awal dan kebutuhan produk, perusahaan dapat menentukan jumlah unit yang perlu diproduksi. Perhitungan ini menjadi inti dari MPS karena menentukan volume produksi pada setiap periode.
5. Safety stock
Safety stock merupakan stok cadangan yang sengaja disiapkan untuk menghadapi lonjakan permintaan atau gangguan pasokan yang tidak terduga. Besarnya safety stock perlu disesuaikan dengan tingkat risiko dan karakteristik produk.
6. Kapasitas produksi
Kapasitas produksi menunjukkan jumlah maksimum produk yang dapat dibuat dalam periode tertentu dengan sumber daya yang tersedia. Data ini perlu diperiksa agar jumlah produksi dalam MPS tetap realistis untuk dijalankan.
Contoh perhitungan MPS
Berikut contoh sederhana MPS dalam konteks bisnis F&B.
Misalkan Anda menjalankan bakery yang memproduksi roti tawar. Pada awal periode, tersedia 40 loyang roti tawar. Berdasarkan perkiraan permintaan, Anda memperkirakan dapat menjual 200 loyang selama periode tersebut.
1. Hitung kebutuhan produksi tanpa safety stock
Gunakan rumus:
Jumlah yang perlu diproduksi = Perkiraan permintaan – Stok awal
Jumlah yang perlu diproduksi = 200 – 40 = 160 loyang
Artinya, bisnis perlu memproduksi 160 loyang untuk memenuhi perkiraan permintaan, jika tidak ada stok cadangan yang perlu dipertahankan.
Namun, bakery tersebut ingin menjaga safety stock sebanyak 40 loyang untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, misalnya saat akhir pekan.
2. Hitung kebutuhan produksi dengan safety stock
Gunakan rumus:
Jumlah yang perlu diproduksi = (Perkiraan permintaan + Safety stock) – Stok awal
Jumlah yang perlu diproduksi = (200 + 40) – 40 = 200 loyang
Dengan demikian, bakery perlu memproduksi 200 loyang roti tawar selama periode tersebut. Jumlah ini cukup untuk memenuhi perkiraan penjualan sekaligus mempertahankan safety stock sebanyak 40 loyang.
Tips mengelola MPS yang efektif
MPS perlu diperbarui secara berkala. Beberapa hal berikut dapat membantu perusahaan mengelola MPS dengan lebih efektif.
1. Seimbangkan permintaan dan pasokan
MPS perlu mempertemukan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan produksi yang tersedia. Memaksakan produksi melebihi kapasitas dapat meningkatkan biaya dan menciptakan bottleneck, sedangkan produksi terlalu rendah dapat menyebabkan kehilangan penjualan.
2. Selaraskan MPS dengan tujuan bisnis
Sesuaikan MPS dengan prioritas perusahaan. Jika fokusnya adalah mengurangi biaya penyimpanan, jadwal produksi dapat dibuat lebih mendekati kebutuhan aktual. Jika prioritasnya menjaga tingkat layanan, safety stock yang lebih besar mungkin diperlukan.
3. Tinjau dan perbarui secara rutin
MPS tidak sebaiknya dibuat sekali lalu dibiarkan tanpa perubahan. Tinjau jadwal secara berkala, terutama ketika terjadi perubahan permintaan, keterlambatan supplier, atau perubahan kapasitas produksi.
4. Libatkan berbagai departemen
MPS memengaruhi produksi, penjualan, pengadaan, keuangan, hingga HR. Karena itu, penyusunannya sebaiknya melibatkan pihak terkait agar setiap departemen memahami rencana yang sama.
5. Manfaatkan teknologi yang sesuai
Sistem digital dapat membantu mengumpulkan data penjualan, stok, dan produksi dalam satu tempat. Data yang lebih akurat dan up-to-date membuat perusahaan lebih mudah menyesuaikan MPS ketika terjadi perubahan kondisi.
6. Pantau hasil dan lakukan perbaikan
Evaluasi apakah produksi berjalan sesuai jadwal dan apakah jumlah produk yang dibuat sudah sesuai kebutuhan. Metrik seperti tingkat kepatuhan jadwal, level inventaris, dan pemanfaatan kapasitas dapat digunakan untuk menemukan bagian MPS yang masih perlu diperbaiki.
Perbedaan MPS dan MRP
MPS sering dianggap sama dengan MRP (Material Requirements Planning) karena keduanya digunakan dalam perencanaan produksi. Padahal, keduanya memiliki fungsi dan tingkat detail yang berbeda.
| Aspek | MPS | MRP |
| Fokus | Menentukan apa yang diproduksi, berapa jumlahnya, dan kapan produksinya | Menentukan kebutuhan material dan komponen untuk menjalankan produksi |
| Tingkat perencanaan | Lebih tinggi dan bersifat umum | Lebih detail dan operasional |
| Output | Jadwal induk produksi | Rencana kebutuhan bahan dan waktu pengadaannya |
| Input utama | Forecast, pesanan, stok, dan kapasitas produksi | MPS, status stok, BOM, lead time, dan data material |
| Tujuan | Menyelaraskan permintaan dengan rencana produksi | Memastikan material tersedia sesuai kebutuhan produksi |
Jadikan data penjualan sebagai dasar perencanaan produksi dengan Mekari POS
Menyusun MPS yang akurat membutuhkan data permintaan yang benar-benar mencerminkan kondisi bisnis, bukan sekadar perkiraan kasar. Tanpa data penjualan yang tercatat rapi, menentukan berapa banyak yang perlu diproduksi setiap harinya akan tetap terasa seperti menebak-nebak.
Kesalahan dalam memperkirakan jumlah produksi dapat berujung pada kehabisan stok yang mengecewakan pelanggan, maupun kelebihan produksi yang berujung pada bahan yang terbuang.
Mekari POS adalah solusi multi-industri berbasis cloud untuk bisnis F&B, retail, dan jasa, yang membantu bisnis F&B mencatat data penjualan setiap produk secara detail dan real-time. Berikut fitur yang mendukung perencanaan produksi yang lebih terukur:
- Laporan penjualan real-time per produk: Pantau performa penjualan setiap menu atau produk secara langsung untuk mengetahui pola permintaan yang dapat dijadikan dasar penyusunan forecast yang lebih akurat.
- Identifikasi produk terlaris: Data penjualan membantu bisnis mengenali produk dengan perputaran tertinggi, sehingga prioritas produksi dapat ditetapkan dengan lebih tepat.
- Manajemen inventaris dan resep: Lacak penggunaan bahan baku berdasarkan aktivitas produksi dan penjualan harian agar food cost tetap terkontrol dan kebutuhan pengadaan dapat diperkirakan lebih akurat.
- Rekonsiliasi otomatis ke Mekari Jurnal: Seluruh transaksi tersinkronisasi ke sistem akuntansi secara otomatis, sehingga data keuangan yang dibutuhkan untuk proyeksi biaya produksi selalu tersedia.
Jadikan data penjualan sebagai fondasi perencanaan produksi bisnis F&B yang lebih terukur bersama Mekari POS.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
