7 mins read

Rumus Dead Stock: Cara Hitung Total Kerugian Stok Mati

rumus dead stock
Mekari POS Highlights
  • Dead stock adalah stok barang yang tidak lagi diharapkan terjual, tertahan di gudang atau rak toko dalam waktu lama tanpa ada pergerakan penjualan.
  • Dampak dead stock cukup signifikan bagi bisnis F&B, terbukti dari inventaris yang biasanya mewakili 35% dari pengeluaran restoran, dengan beberapa restoran membuang hingga 10% dari uang yang dihabiskan untuk bahan makanan.
  • Mekari POS membantu bisnis memantau data penjualan dan pergerakan stok secara real-time, sehingga produk yang berisiko menjadi dead stock dapat diidentifikasi lebih cepat.

Stok yang tidak kunjung terjual bukan hanya memenuhi ruang penyimpanan. Bisnis juga tetap menanggung biaya penyimpanan, perawatan, hingga modal yang tertahan pada barang tersebut. Jika dibiarkan, dead stock dapat menggerus keuntungan tanpa disadari.

Setiap bisnis perlu mengetahui rumus dead stock agar dapat menghitung berapa besar biaya yang sebenarnya ditanggung bisnis akibat stok yang tidak terjual. 

Artikel ini akan membahas pengertian dead stock, alasan kondisi ini merugikan bisnis, rumus untuk menghitung biayanya, contoh perhitungan, serta penyebab dan cara mengatasi dead stock.

Apa itu dead stock?

rumus dead stock

Dead stock adalah persediaan yang sudah tidak lagi memiliki potensi penjualan atau sangat kecil kemungkinannya untuk terjual. Kondisi ini dapat terjadi ketika bisnis menyimpan terlalu banyak barang yang tidak sesuai dengan permintaan pasar, produk mengalami kerusakan, atau terjadi kesalahan pengiriman.

Dead stock juga tidak selalu muncul secara langsung. Barang yang penjualannya mulai melambat biasanya terlebih dahulu masuk kategori slow-moving inventory. Jika terus tidak terjual dan jumlahnya menumpuk, barang tersebut dapat menjadi excess inventory. 

Keberadaan dead stock dapat menjadi masalah karena modal bisnis tertahan pada barang yang tidak menghasilkan pendapatan. Selain itu, bisnis masih perlu menanggung biaya penyimpanan dan pengelolaan persediaan tersebut. Semakin lama dead stock dibiarkan, semakin besar pula potensi kerugian yang harus ditanggung bisnis.

Mengapa dead stock merugikan bisnis?

Dead stock tidak hanya membuat barang menumpuk di gudang, tetapi juga membuat modal tertahan dan menambah biaya operasional. 

1. Modal bisnis tertahan

Modal yang sudah dikeluarkan untuk membeli atau memproduksi barang tidak dapat kembali sebelum produk tersebut terjual. Ketika barang berubah menjadi dead stock, modal tersebut berisiko tidak kembali dan dapat mengganggu perputaran keuangan bisnis.

2. Biaya penyimpanan terus bertambah

Semakin lama barang disimpan, semakin besar pula biaya yang perlu dikeluarkan. Biaya ini dapat mencakup penggunaan ruang, tenaga kerja, perawatan, hingga kebutuhan penyimpanan lainnya.

3. Menambah beban tenaga kerja

Stok yang menumpuk membutuhkan waktu dan tenaga untuk dihitung, dipindahkan, ditata, atau bahkan dibuang. Artinya, tim perlu mengalokasikan sumber daya untuk mengelola barang yang tidak lagi memberikan nilai bagi bisnis.

4. Kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan

Modal yang tertahan dalam dead stock seharusnya bisa digunakan untuk membeli atau memproduksi barang yang lebih banyak diminati pelanggan. Jika dead stock akhirnya dijual, bisnis juga mungkin harus memberikan diskon besar sehingga margin keuntungannya menjadi lebih kecil.

5. Mengurangi ruang penyimpanan

Dead stock tetap membutuhkan tempat meskipun tidak menghasilkan penjualan. Ruang gudang atau rak yang digunakan untuk menyimpan barang tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk produk yang lebih cepat terjual.

Rumus menghitung dead stock

Menghitung dead stock tidak cukup hanya dengan melihat nilai barang yang tidak terjual. Ada biaya lain yang ikut muncul selama barang tersebut tersimpan, seperti biaya penyimpanan dan peluang keuntungan yang hilang. 

Karena itu, perhitungan dapat dilakukan secara bertahap agar total dampaknya terhadap bisnis lebih mudah terlihat. 

Rumus biaya dead stock

Biaya Dead Stock = Jumlah Unit Tidak Terjual × Biaya per Unit

Rumus ini digunakan untuk mengetahui nilai modal yang tertahan pada barang yang tidak terjual. Misalnya, terdapat 100 unit barang dengan biaya Rp50.000 per unit, maka biaya dead stock yang tertahan adalah Rp5.000.000.

Rumus biaya penyimpanan dead stock

Biaya Penyimpanan Dead Stock = Biaya Dead Stock × Persentase Biaya Penyimpanan

Persentase biaya penyimpanan menunjukkan bagian dari biaya penyimpanan yang dialokasikan untuk dead stock. Komponen ini dapat mencakup biaya gudang, tenaga kerja, perawatan, dan kebutuhan penyimpanan lainnya.

Data Insight

Biaya penyimpanan tahunan biasanya berkisar 20-30% dari nilai inventaris.  – VNDLY

Jika bisnis Anda belum memiliki angka pasti dari catatan akuntansi sendiri, persentase ini bisa dijadikan patokan awal saat mengisi rumus biaya penyimpanan, sebelum nantinya disesuaikan dengan kondisi riil gudang atau toko Anda. 

Rumus biaya peluang dead stock

Biaya Peluang Dead Stock = Biaya Dead Stock × Persentase Potensi ROI

Rumus ini digunakan untuk memperkirakan keuntungan yang berpotensi diperoleh jika modal yang tertahan pada dead stock digunakan untuk investasi atau aktivitas bisnis lain yang menghasilkan return.

Rumus total biaya dead stock

Total Biaya Dead Stock = Biaya Dead Stock + Biaya Penyimpanan + Biaya Peluang

Dengan menghitung ketiga komponen tersebut, bisnis dapat melihat dampak dead stock secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari nilai barang yang tidak terjual.

Rumus persentase dead stock 

Persentase Dead Stock = (Total Biaya Dead Stock ÷ Total Nilai Inventaris) × 100%

Berbeda dari rumus sebelumnya yang menghasilkan nilai Rupiah absolut, rumus ini digunakan untuk melihat seberapa besar proporsi dead stock dibandingkan total inventaris bisnis secara keseluruhan. 

Metrik ini berguna untuk membandingkan tingkat keparahan dead stock antar periode, misalnya untuk melihat apakah persentase dead stock bulan ini meningkat atau menurun dibanding bulan sebelumnya, sesuatu yang tidak bisa ditunjukkan oleh nilai Rupiah saja.

Contoh perhitungan dead stock lengkap

Berikut contoh perhitungan menggunakan skenario toko fashion yang memiliki dead stock berupa kaos yang tidak terjual.

Data dead stock:

  • Jumlah unit tidak terjual: 500 pcs
  • Biaya per unit: Rp150.000
  • Persentase biaya penyimpanan: 20%
  • Persentase potensi ROI: 25%
  • Total nilai inventaris toko saat ini: Rp600.000.000 

Langkah 1: Hitung biaya dead stock

Biaya Dead Stock = 500 × Rp150.000 = Rp75.000.000

Artinya, terdapat modal sebesar Rp75.000.000 yang masih tertahan dalam 500 pcs kaos tersebut.

Langkah 2: Hitung biaya penyimpanan

Biaya Penyimpanan = Rp75.000.000 × 20% = Rp15.000.000

Biaya ini menunjukkan perkiraan beban penyimpanan yang muncul karena barang tetap berada di gudang.

Langkah 3: Hitung biaya peluang

Biaya Peluang = Rp75.000.000 × 25% = Rp18.750.000

Nilai tersebut menggambarkan potensi keuntungan yang hilang karena modal Rp75.000.000 masih tertahan pada stok yang tidak terjual.

Langkah 4: Hitung total biaya dead stock

Total Biaya Dead Stock = Rp75.000.000 + Rp15.000.000 + Rp18.750.000 = Rp108.750.000

Dari perhitungan tersebut, dampak finansial 500 pcs kaos yang tidak terjual bukan hanya Rp75.000.000. Setelah biaya penyimpanan dan peluang yang hilang ikut diperhitungkan, total biaya dead stock mencapai Rp108.750.000.

Langkah 5: Hitung persentase dead stock 

Persentase Dead Stock = (Rp75.000.000 ÷ Rp600.000.000) × 100% = 12,5%

Artinya, dead stock berupa 500 pcs kaos ini setara dengan 12,5% dari total nilai inventaris toko. Angka ini bisa dijadikan patokan awal, jika persentase dead stock terus meningkat dari bulan ke bulan, itu tanda bahwa strategi pengadaan atau penjualan produk tersebut perlu segera dievaluasi.

Penyebab dead stock dan cara mengatasinya

Dead stock bisa muncul karena berbagai faktor, berikut beberapa penyebab yang umum terjadi dan cara mengatasinya:

1. Peramalan permintaan yang tidak akurat

Perkiraan permintaan yang terlalu tinggi dapat membuat bisnis memesan atau memproduksi barang melebihi kebutuhan. Untuk menguranginya, gunakan data penjualan sebelumnya dan pertimbangkan perubahan tren maupun kondisi pasar sebelum menentukan jumlah stok.

2. Praktik pemesanan yang tidak konsisten

Memesan barang dalam jumlah berlebihan atau pada waktu yang kurang tepat dapat menyebabkan stok menumpuk. Pantau metrik seperti perputaran persediaan untuk menentukan kapan harus melakukan pemesanan ulang dan berapa jumlah yang dibutuhkan.

3. Jumlah SKU yang terlalu banyak

Terlalu banyak varian produk dapat membuat bisnis kesulitan mengelola stok dan memastikan setiap produk terjual. Lakukan evaluasi SKU secara berkala untuk mengetahui produk yang memiliki penjualan baik dan produk yang mulai tidak bergerak.

4. Penjualan produk yang rendah

Produk bisa menjadi dead stock karena harganya terlalu tinggi, sudah tidak mengikuti tren, atau kalah menarik dibandingkan produk kompetitor. Untuk mengatasinya, evaluasi harga dan lakukan riset pasar. Produk yang mulai lambat terjual juga dapat ditawarkan melalui promo atau diskon.

5. Penurunan permintaan secara tiba-tiba

Perubahan tren atau kondisi pasar dapat membuat permintaan terhadap produk turun secara tidak terduga. Bisnis dapat mengurangi risikonya dengan memantau perubahan permintaan dan menghindari pemesanan stok dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan kondisi pasar.

6. Masalah kualitas produk

Produk yang rusak atau tidak memenuhi ekspektasi pelanggan lebih sulit terjual dan berisiko menumpuk menjadi dead stock. Pastikan produk melalui pemeriksaan kualitas sebelum disimpan di gudang atau dikirim kepada pelanggan.

Cegah dead stock dengan pencatatan stok yang lebih akurat bersama Mekari POS

Menghitung dampak finansial dead stock hanyalah langkah awal. Mencegah dead stock sejak dini jauh lebih baik dibanding harus menghitung kerugiannya setelah terjadi.

Tanpa data penjualan dan pergerakan stok yang akurat, bisnis akan kesulitan mengidentifikasi produk mana yang mulai menjadi slow-moving inventory sebelum benar-benar berubah menjadi dead stock.

Mekari POS adalah aplikasi POS terpusat yang dirancang untuk bisnis retail dan F&B, membantu Anda mengidentifikasi produk berisiko dead stock lebih awal. Berikut fitur yang bisa dimanfaatkan:

  • Point of sales: Setiap transaksi tercatat otomatis dan real-time, memberikan gambaran akurat produk mana yang penjualannya mulai melambat di setiap outlet.
  • Manajemen inventaris dan produk: Pantau pergerakan stok secara terpusat, sehingga Anda dapat mendeteksi produk yang mulai menjadi slow-moving inventory sebelum menumpuk menjadi dead stock.
  • Laporan dan analisis bisnis: Bandingkan performa penjualan antarproduk dan antarperiode, membantu Anda mengambil tindakan seperti promosi atau diskon lebih cepat sebelum kerugian membesar.
  • Promosi dan membership: Jalankan diskon atau penawaran khusus langsung dari sistem yang sama begitu produk terindikasi mulai lambat terjual.

Siap kelola stok bisnis Anda dengan data yang lebih akurat untuk mencegah dead stock? Mulai kelola transaksi dan operasional bisnis Anda dengan Mekari POS!

References and methodology

Methodology

Methodology

Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.

Our editorial standards

Our editorial standards

  • Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
  • Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
  • No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
  • Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References

References

NetSuite. “What Is Dead Stock? Definition, Guide, and How to Prevent It”
VNDLY. “Bad Inventory Management Costs Retailers $1.77 Trillion [2026]”

FAQ

1. Apa itu dead stock?

1. Apa itu dead stock?

Dead stock adalah barang yang tidak lagi diharapkan terjual, tertahan di gudang atau rak toko dalam waktu lama tanpa ada pergerakan penjualan, dan dapat berdampak negatif terhadap keuntungan bisnis.

2. Bagaimana rumus menghitung dead stock?

2. Bagaimana rumus menghitung dead stock?

Terdapat tiga rumus yang perlu dijumlahkan: biaya dead stock (jumlah unit tidak terjual dikali biaya per unit), biaya penyimpanan (biaya dead stock dikali persentase biaya penyimpanan), dan biaya peluang (biaya dead stock dikali persentase potensi ROI).

3. Kenapa perhitungan dead stock perlu memasukkan biaya penyimpanan dan biaya peluang?

3. Kenapa perhitungan dead stock perlu memasukkan biaya penyimpanan dan biaya peluang?

Karena perhitungan sederhana (unit tidak terjual dikali harga per unit) hanya mencerminkan biaya langsung, sementara biaya penyimpanan dan peluang yang hilang turut membebani bisnis secara nyata, sehingga total kerugian sesungguhnya jauh lebih besar.

4. Bagaimana Mekari POS membantu mencegah dead stock?

4. Bagaimana Mekari POS membantu mencegah dead stock?

Mekari POS membantu bisnis memantau data penjualan secara real-time di setiap outlet, sehingga produk yang pergerakannya melambat dapat diidentifikasi lebih awal sebelum benar-benar menjadi dead stock.