7 mins read

Cara Buat SKU Produk: Format, Langkah dan Contohnya

cara buat SKU
Mekari POS Highlights
  • SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode unik alfanumerik yang digunakan bisnis untuk mengidentifikasi dan melacak setiap varian produk secara spesifik, mulai dari ukuran hingga warna.
  • Akurasi SKU berdampak langsung pada operasional bisnis, terbukti dari barcode scanning yang terintegrasi dengan sistem SKU memiliki akurasi hingga 1 dari 3 juta pemindaian, dibanding pencatatan manual yang berisiko salah 1 dari 300 entri.
  • Mekari POS membantu bisnis mengelola SKU dan varian produk secara terpusat, sehingga pencatatan stok tetap akurat meski jumlah produk terus bertambah.

Membuat kode SKU secara asal mungkin tidak terasa menjadi masalah ketika jumlah produk masih sedikit. Karena itu, penting untuk memahami cara buat SKU yang terstruktur sejak awal. Dengan kode yang konsisten, produk akan lebih mudah diidentifikasi dan pengelolaan stok pun menjadi lebih rapi.

Artikel ini akan membahas apa itu SKU dan pentingnya bagi bisnis, cara membuat SKU produk, contoh format yang bisa digunakan, kesalahan yang perlu dihindari, serta tips mengelola SKU agar tetap efektif seiring bertambahnya produk.

Apa itu SKU dan kenapa penting bagi bisnis?

Cara buat SKU

SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode unik berupa kombinasi huruf dan angka yang digunakan untuk mengidentifikasi setiap produk atau variannya. Kode ini membantu bisnis membedakan produk berdasarkan karakteristik tertentu, seperti jenis, warna, ukuran, atau model.

Misalnya, kaos berwarna biru ukuran M dan L merupakan dua varian berbeda sehingga masing-masing perlu memiliki SKU sendiri. Dengan begitu, bisnis dapat lebih mudah mengetahui produk yang tersedia, memantau jumlah stok, dan menghindari kesalahan saat memproses pesanan.

SKU juga penting karena membuat pengelolaan inventaris lebih teratur, terutama ketika jumlah produk dan variannya semakin banyak. Data SKU dapat digunakan untuk memantau pergerakan stok, melihat produk yang paling banyak terjual, hingga menentukan kapan perlu melakukan pemesanan ulang.

Perbedaan SKU, barcode, dan UPC

Ketiga istilah ini sering digunakan bergantian, padahal fungsi dan cakupannya berbeda. Memahami perbedaannya penting agar Anda tidak salah menerapkan sistem identifikasi produk di bisnis.

IstilahDibuat olehSifatFungsi Utama
SKUInternal bisnis sendiriUnik per bisnis, boleh berbeda antar toko untuk produk yang samaMelacak stok dan varian produk sesuai kebutuhan internal
UPC (Universal Product Code)Lembaga standar global (GS1)Standar, sama di seluruh dunia untuk produk yang samaIdentifikasi produk secara universal, terutama untuk penjualan lintas retailer
BarcodeBisa berdasarkan SKU maupun UPCRepresentasi visual yang bisa dipindaiMempercepat proses input data SKU atau UPC saat transaksi maupun stock opname

Komponen umum dalam SKU

Sebelum membuat SKU, pahami dulu informasi apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam sebuah kode, berikut komponen utamanya:

  • Kode kategori atau departemen: Menunjukkan kelompok produk secara umum. Misalnya, FSH untuk fashion, ELK untuk elektronik, atau MNM untuk menu minuman. Kode ini biasanya diletakkan di awal SKU sebagai prefiks.
  • Kode brand atau supplier: Menunjukkan merek atau pemasok produk. Komponen ini berguna bagi bisnis yang menjual banyak brand agar produk lebih mudah dibedakan berdasarkan sumbernya.
  • Kode jenis atau model produk: Menjelaskan jenis produk secara lebih spesifik dalam satu kategori. Misalnya, KAOS untuk produk kaos atau KOPSSU untuk menu kopi susu.
  • Kode atribut varian: Digunakan untuk membedakan varian dari produk yang sama, seperti ukuran, warna, atau level tertentu. Contohnya, M untuk ukuran medium, BIR untuk warna biru, atau PDS untuk level pedas.
  • Nomor urut atau ID unik: Menambahkan angka pembeda untuk memastikan setiap SKU tetap unik. Komponen ini terutama berguna ketika kombinasi kategori, brand, jenis, dan varian masih memungkinkan adanya SKU yang sama.

Langkah-langkah membuat SKU produk

Membuat SKU bukan sekadar menggabungkan huruf dan angka secara asal. Berikut langkah yang bisa Anda ikuti untuk membuat SKU yang terstruktur dan mudah digunakan.

1. Pilih kombinasi komponen yang sesuai

Tentukan komponen SKU yang paling relevan untuk membedakan produk Anda, seperti kategori, jenis, brand, atau atribut varian. Misalnya, KAOS-BIR-M menggabungkan kode jenis produk dan atribut varian untuk menunjukkan kaos berwarna biru ukuran M.

2. Gunakan format alfanumerik

Gunakan kombinasi huruf dan angka yang mudah dibaca serta diketik. Sebaiknya hindari karakter khusus atau simbol yang berpotensi tidak didukung oleh sistem tertentu.

3. Tetapkan urutan komponen secara konsisten

Setelah menentukan komponen yang digunakan, tetapkan urutan penulisannya dan gunakan pola yang sama untuk seluruh katalog. Misalnya, selalu menempatkan kode kategori diikuti jenis produk dan varian agar SKU mudah dipahami ketika jumlah produk bertambah.

4. Pastikan setiap SKU unik

Setiap produk atau varian harus memiliki SKU yang berbeda. SKU yang sama dapat menyebabkan kesalahan dalam pencatatan stok, pemrosesan pesanan, hingga proses restock.

5. Buat SKU singkat dan deskriptif

Buat SKU tetap ringkas, tetapi cukup informatif untuk mengenali produk. Hindari kode yang terlalu panjang karena dapat menyulitkan proses input, pencarian, dan pelabelan. Pastikan setiap karakter yang digunakan memang memiliki fungsi dalam membedakan produk.

Contoh format SKU dalam bisnis retail

Tidak ada format SKU yang wajib digunakan oleh semua bisnis. Setiap bisnis dapat menyesuaikannya dengan jenis produk dan informasi yang paling penting untuk dicatat. 

Berikut beberapa contoh format SKU yang bisa diterapkan:

  • Kategori-Brand-Varian: Menggabungkan kategori produk, brand, dan atribut varian. Contohnya FSH-NIKE-L-PTH untuk produk fashion dari Nike dengan ukuran L dan warna putih.
  • Departemen-ID Produk-Spesifikasi: Menggunakan kode departemen, ID produk, dan spesifikasi utama. Contohnya ELK-5493-32GB untuk produk elektronik dengan ID 5493 dan kapasitas 32 GB.
  • Alfanumerik custom sederhana: Menggabungkan kode produk, nomor urut, dan atribut tertentu. Contohnya KAOS101-BIR-M untuk kaos dengan kode 101, warna biru, dan ukuran M.

Kesalahan umum saat membuat SKU

SKU yang dibuat tanpa aturan yang jelas justru bisa menyulitkan pengelolaan stok. Beberapa kesalahan berikut sebaiknya dihindari agar sistem SKU tetap rapi dan mudah digunakan.

1. Menggunakan SKU yang sama untuk produk berbeda

Setiap produk atau varian harus memiliki kode yang unik. SKU yang terduplikasi dapat membuat pencatatan stok, pemrosesan pesanan, dan proses restock menjadi tidak akurat.

2. Menggunakan format yang tidak konsisten

Mengubah-ubah pola penamaan SKU dapat membuat tim kesulitan memahami kode produk. Tentukan format dan aturan penamaan yang sama sejak awal, lalu gunakan secara konsisten.

3. Membuat SKU terlalu rumit

Memasukkan terlalu banyak informasi ke dalam satu kode justru membuat SKU sulit dibaca dan diingat. Gunakan atribut yang benar-benar diperlukan untuk membedakan produk.

4. Tidak mempertimbangkan pertumbuhan bisnis

Format SKU sebaiknya tetap bisa digunakan ketika jumlah produk dan variannya bertambah. Hindari struktur yang terlalu spesifik sehingga sulit diterapkan pada kategori atau produk baru.

5. Tidak memberikan pemahaman kepada tim

Sistem SKU akan sulit diterapkan jika hanya dipahami oleh satu orang. Pastikan tim yang menangani stok dan pesanan mengetahui aturan penamaan serta cara menggunakan SKU dengan benar.

Tips mengelola SKU agar tetap optimal

Membuat SKU yang efektif hanyalah langkah awal. Agar sistem tetap rapi dan bisa digunakan dalam jangka panjang, pengelolaan SKU juga perlu dilakukan secara konsisten.

1. Buat dokumentasi terpusat

Simpan database atau dokumen referensi yang menjelaskan arti setiap bagian dalam SKU. Dokumentasi ini membantu tim memahami aturan penamaan dan menjaga konsistensi meskipun terjadi perubahan anggota tim atau sistem.

2. Lakukan tinjauan secara berkala

Periksa daftar SKU secara rutin untuk menemukan kode yang duplikat, tidak terpakai, atau sudah tidak sesuai. Langkah ini membantu menjaga database SKU tetap rapi seiring bertambahnya produk.

3. Jangan langsung menghapus SKU lama

Jika produk sudah tidak diproduksi, tandai SKU tersebut sebagai discontinued daripada menghapusnya. Dengan begitu, data historis penjualan dan inventaris tetap tersimpan dan dapat digunakan untuk analisis di kemudian hari.

4. Gunakan versioning untuk revisi produk

Jika ada perubahan pada produk, seperti desain atau kemasan, gunakan kode versi untuk membedakannya. Misalnya, tambahkan V2 atau V3 pada SKU agar riwayat perubahan produk tetap mudah dilacak.

5. Manfaatkan data SKU untuk analisis bisnis

Data SKU dapat membantu Anda melihat produk yang paling banyak terjual, perputaran stok, hingga produk yang kurang diminati. Informasi ini bisa menjadi dasar untuk menentukan strategi restock dan pengelolaan inventaris berikutnya.

Kelola SKU produk Anda lebih rapi dengan Mekari POS

Membuat SKU yang tepat hanyalah langkah awal. Sistem SKU yang baik perlu didukung oleh sistem operasional yang benar-benar dapat memanfaatkan data tersebut, mulai dari transaksi kasir hingga laporan bisnis.

Tanpa integrasi yang menyeluruh, SKU yang sudah dirancang rapi tetap berisiko tidak termanfaatkan secara maksimal jika data stok dan transaksi masih tercatat secara terpisah.

Mekari POS adalah sistem kasir terpusat yang dirancang untuk bisnis retail dan F&B, membantu mengelola SKU produk Anda secara terpusat melalui fitur Manajemen Inventaris dan Produk:

  • Atur katalog produk, SKU, kategori, dan varian dengan lebih rapi, sehingga struktur SKU yang sudah Anda rancang tetap konsisten dan mudah dikelola di sistem.
  • Pantau produk dan stok lebih akurat di setiap outlet dan gudang, dengan pengurangan stok otomatis setiap kali terjadi transaksi di kasir, sejalan dengan kode SKU masing-masing produk.
  • Dapatkan notifikasi stok menipis secara real-time, membantu Anda memanfaatkan data SKU untuk menentukan kapan perlu melakukan pemesanan ulang.

Dengan begitu, data stok Anda tetap akurat sejalan dengan sistem SKU yang sudah Anda rancang, tanpa perlu pencatatan yang terpisah antara kode produk dan pergerakan stok sesungguhnya.

Siap kelola SKU dan produk bisnis Anda dengan sistem yang lebih terintegrasi? Mulai kelola transaksi dan operasional bisnis Anda dengan Mekari POS!

References and methodology

Methodology

Methodology

Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.

Our editorial standards

Our editorial standards

  • Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
  • Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
  • No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
  • Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References

References

Midwest AWD. “How To Create SKU Numbers: A Comprehensive Guide For Effective Inventory Management”
StartUp FASHION. “How to Create a SKU Number for Your Products”

FAQ

1. Apa itu SKU?

1. Apa itu SKU?

SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode identifikasi unik berupa kombinasi huruf dan angka yang digunakan untuk melacak produk di sepanjang rantai pasok, mulai dari rak gudang hingga pesanan pelanggan.

2. Bagaimana langkah-langkah membuat SKU produk?

2. Bagaimana langkah-langkah membuat SKU produk?

Langkahnya meliputi menentukan struktur SKU, menggunakan format alfanumerik, menggunakan prefiks standar untuk kategori, memastikan keunikan setiap kode, serta membuatnya singkat namun tetap deskriptif (idealnya 6-12 karakter).

3. Apa saja kesalahan umum saat membuat SKU?

3. Apa saja kesalahan umum saat membuat SKU?

Kesalahannya meliputi kode yang tidak unik, penamaan yang tidak konsisten, format yang terlalu rumit, mengabaikan skalabilitas bisnis, serta kurangnya pelatihan tim yang menangani inventaris.

4. Bagaimana Mekari POS membantu pengelolaan SKU bisnis?

4. Bagaimana Mekari POS membantu pengelolaan SKU bisnis?

Mekari POS membantu bisnis mengelola produk dan varian, termasuk kode SKU, secara terpusat, dengan pengurangan stok otomatis setiap kali terjadi transaksi, sehingga data stok tetap akurat sejalan dengan sistem SKU yang sudah dirancang.