- Holding cost adalah total biaya yang dikeluarkan bisnis untuk menyimpan dan mempertahankan stok sebelum barang tersebut terjual, mencakup lebih dari sekadar biaya sewa gudang.
- Semakin lama produk tersimpan tanpa terjual, semakin besar pula holding cost yang menggerus margin keuntungan bisnis Anda, meski biaya ini sering kali tidak disadari secara langsung.
- Mekari POS membantu bisnis memantau data penjualan dan stok secara real-time, sehingga produk yang tersimpan terlalu lama dapat diidentifikasi lebih cepat sebelum holding cost-nya membengkak.
Setiap produk yang tersimpan di rak atau gudang bisnis Anda diam-diam terus menghasilkan biaya, meski belum terjual sama sekali. Biaya inilah yang disebut holding cost, dan sering kali luput dari perhatian karena tidak muncul sebagai satu pos pengeluaran tunggal yang mudah terlihat.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari holding cost adalah apa, komponen yang membentuknya, rumus menghitungnya, contoh perhitungan lengkap, berapa holding cost yang wajar bagi bisnis, hingga cara menguranginya.
Apa itu holding cost?
Holding cost adalah total biaya yang dikeluarkan bisnis untuk menyimpan dan mempertahankan stok selama periode tertentu. Istilah ini sering digunakan bergantian dengan carrying cost.
Meskipun keduanya memiliki cakupan yang sedikit berbeda. Holding cost umumnya lebih mengarah pada biaya yang berkaitan langsung dengan penyimpanan produk, sedangkan carrying cost dapat mencakup biaya inventaris secara lebih luas, termasuk biaya modal dan risiko yang muncul selama barang tersimpan.
Bagi bisnis retail maupun e-commerce, memahami holding cost penting karena biaya ini dapat mempengaruhi margin keuntungan secara langsung. Semakin lama produk tersimpan dan semakin besar jumlah stok yang dimiliki, semakin besar pula biaya yang perlu ditanggung bisnis.
Inilah sebabnya penting untuk memahami seluruh komponen holding cost secara menyeluruh, bukan hanya biaya yang terlihat jelas seperti sewa gudang.
Komponen yang membentuk holding cost
Holding cost bukan sekadar biaya sewa gudang, melainkan gabungan dari empat komponen berbeda, menurut Descartes Finale.
1. Biaya modal (capital costs)
Merepresentasikan uang yang tertahan dalam bentuk stok dan sebenarnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan bisnis lainnya. Biaya ini dapat mencakup bunga pinjaman yang digunakan untuk membeli stok maupun biaya peluang dari investasi lain yang tidak dapat dilakukan karena modal masih terikat dalam persediaan.
Inilah salah satu alasan mengapa biaya modal sering menjadi komponen holding cost yang paling luput dari perhatian, karena tidak muncul sebagai pos pengeluaran tunggal yang mudah dilihat di laporan keuangan.
2. Biaya penyimpanan (storage costs)
Mencakup berbagai biaya untuk menyediakan dan mempertahankan ruang penyimpanan, seperti sewa gudang, listrik, sistem pengendalian suhu untuk produk sensitif, hingga biaya pemeliharaan peralatan yang digunakan untuk menangani barang.
3. Biaya layanan (service costs)
Merupakan biaya operasional yang diperlukan untuk memastikan stok tetap terjaga dan tercatat dengan baik. Contohnya termasuk premi asuransi, tenaga kerja untuk melakukan penghitungan stok, serta perlengkapan seperti barcode dan label.
4. Biaya risiko (risk costs)
Semakin lama stok tidak terjual, semakin besar risiko yang harus ditanggung bisnis. Produk dapat mengalami penyusutan (shrinkage), keusangan, kerusakan, atau kehilangan nilai karena tren dan permintaan pasar berubah. Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada produk musiman atau yang memiliki siklus tren pendek.
Rumus menghitung holding cost
Terdapat beberapa rumus holding cost yang dapat digunakan, tergantung pada tingkat detail analisis yang dibutuhkan.
Rumus dasar holding cost tahunan
Holding Cost Tahunan = Rata-rata Nilai Stok x Tingkat Holding Cost (%)
Tingkat holding cost umumnya berkisar 15-30% dari nilai stok, tergantung pada industri dan kompleksitas operasional bisnis.
Rumus holding cost per unit
Holding Cost per Unit = (Rata-rata Nilai Stok x Tingkat Holding Cost) / Jumlah Unit
Rumus ini berguna untuk analisis yang lebih rinci pada tingkat SKU. Dengan mengetahui biaya per unit, bisnis dapat lebih mudah mengevaluasi profitabilitas produk dan menentukan jumlah pesanan yang lebih optimal.
Contoh perhitungan 1 (level SKU):
Sebuah toko elektronik menjual headphone dengan harga beli Rp500.000 per unit, rata-rata stok 200 unit, dan tingkat holding cost 25% per tahun.
Holding Cost Tahunan = Rp500.000 × 200 unit × 25% = Rp25.000.000
Holding Cost per Unit = Rp25.000.000 ÷ 200 unit = Rp125.000 per unit per tahun
Artinya, setiap unit headphone yang disimpan menghasilkan holding cost sekitar Rp125.000 per tahun berdasarkan asumsi tingkat holding cost tersebut.
Contoh perhitungan 2 (level gudang):
Sebuah bisnis retail memiliki total nilai inventaris Rp6.000.000.000, dengan tingkat holding cost 22% per tahun.
Holding Cost Tahunan = Rp6.000.000.000 x 22% = Rp1.320.000.000
Perhitungan pada level gudang membantu bisnis melihat dampak finansial keseluruhan dari investasi inventaris.
Dari sini, bisnis juga dapat menilai apakah jumlah stok yang disimpan sudah sebanding dengan kebutuhan penjualan atau masih ada ruang untuk mengurangi persediaan yang terlalu besar.
Berapa holding cost yang wajar bagi bisnis?
Holding cost rate tipikal berkisar 20-30% dari nilai inventaris per tahun, dengan bisnis e-commerce umumnya di kisaran 20-25% dan bisnis wholesale di kisaran 8-15% karena volume dan efisiensi gudang yang lebih besar.
Bisnis yang secara aktif memantau dan mengoptimalkan holding cost umumnya mencapai pengurangan biaya inventaris sebesar 15-30%, menurut sumber yang sama, menunjukkan besarnya potensi penghematan yang bisa diraih dengan pengelolaan yang tepat.
Untuk mengetahui apakah holding cost bisnis Anda berada pada level yang wajar, Anda dapat menghitung rasio berikut.
- Rasio holding cost terhadap pendapatan: Bagi total holding cost tahunan dengan total pendapatan penjualan tahunan, untuk mendapatkan metrik standar yang bisa dibandingkan dengan bisnis lain di industri yang sama.
- Pertimbangkan bersama metrik lain: Jangan hanya melihat holding cost secara terpisah, bandingkan juga dengan inventory turnover ratio dan landed cost untuk mendapatkan gambaran efisiensi inventaris yang lebih menyeluruh.
Menghubungkan holding cost dengan jumlah pesanan optimal (EOQ)
Setelah mengetahui angka holding cost, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memanfaatkannya dalam pengambilan keputusan. Salah satu caranya adalah menggunakan Economic Order Quantity (EOQ), yaitu rumus yang membantu menentukan jumlah pesanan optimal untuk meminimalkan total biaya inventaris.
EOQ mempertimbangkan dua jenis biaya utama, yaitu biaya pemesanan (ordering cost) dan holding cost. Dengan menghitung keduanya, bisnis dapat menentukan jumlah barang yang sebaiknya dipesan dalam satu kali pembelian.
Semakin tinggi holding cost per unit, semakin kecil jumlah pesanan optimal yang disarankan. Bisnis perlu memesan lebih sering dalam jumlah lebih kecil agar modal tidak terlalu lama tertahan dalam stok.
Sebaliknya, holding cost yang lebih rendah memungkinkan bisnis memesan dalam jumlah lebih besar sekaligus, termasuk ketika ingin memanfaatkan diskon volume dari supplier.
Rumus EOQ adalah sebagai berikut:
EOQ = √(2 × Permintaan Tahunan × Biaya per Pesanan ÷ Holding Cost per Unit)
Contoh perhitungan:
Melanjutkan contoh headphone sebelumnya, misalkan toko elektronik tersebut memiliki permintaan tahunan 2.000 unit, biaya per pesanan termasuk biaya administrasi dan pengiriman dari supplier sebesar Rp200.000, serta holding cost per unit Rp125.000 per tahun.
EOQ = √(2 × 2.000 × Rp200.000 ÷ Rp125.000)
EOQ = √(Rp800.000.000 ÷ Rp125.000)
EOQ = √6.400
EOQ = 80 unit
Artinya, jumlah pesanan optimal untuk toko tersebut adalah sekitar 80 unit per pesanan. Jumlah ini membantu bisnis menghindari dua kondisi yang sama-sama tidak efisien, yaitu memesan seluruh kebutuhan tahunan sekaligus atau melakukan pemesanan terlalu sering dalam jumlah yang sangat kecil.
Dengan memahami hubungan antara holding cost dan EOQ, bisnis tidak hanya dapat mengetahui berapa besar biaya penyimpanan yang dikeluarkan, tetapi juga menentukan strategi pembelian yang lebih efisien secara keseluruhan.
Cara mengurangi holding cost
Holding cost tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, namun dapat dikendalikan melalui berbagai strategi berikut:
1. Lakukan analisis ABC pada produk Anda
Identifikasi produk yang paling banyak menahan modal, lalu prioritaskan pengelolaannya. Pendekatan ini membantu bisnis lebih fokus mengendalikan stok bernilai tinggi dan mengurangi risiko dead stock.
2. Lakukan rasionalisasi SKU
Evaluasi produk yang berkinerja buruk dan terus menahan sumber daya tanpa memberikan kontribusi pendapatan yang berarti. SKU yang jarang terjual dapat dikurangi atau dihentikan agar modal dan ruang penyimpanan dapat dialihkan ke produk yang lebih menguntungkan.
3. Terapkan pembelian just-in-time
Selaraskan penerimaan stok dengan permintaan aktual, alih-alih membeli dalam jumlah besar sekaligus. Memecah pesanan menjadi lebih kecil dan lebih sering dapat membantu mengurangi stok yang menumpuk sekaligus menjaga arus kas.
4. Optimalkan penggunaan ruang gudang
Baik menggunakan gudang sendiri maupun jasa fulfillment pihak ketiga, pastikan ruang penyimpanan dimanfaatkan secara efisien. Penataan barang yang lebih terorganisir dan pemanfaatan ruang vertikal dapat membantu menekan biaya penyimpanan.
5. Manfaatkan sistem pencatatan stok yang otomatis
Sistem dengan pemindaian barcode dapat mengurangi kesalahan sekaligus meningkatkan akurasi pencatatan stok. Notifikasi reorder point otomatis juga membantu bisnis melakukan pemesanan pada waktu yang tepat tanpa meningkatkan risiko kelebihan maupun kekurangan stok.
Kelola stok Anda lebih efisien untuk menekan holding cost bersama Mekari POS
Menghitung holding cost hanyalah langkah awal. Menekan holding cost secara berkelanjutan membutuhkan visibilitas yang jelas atas produk mana yang bergerak cepat dan mana yang mulai menahan modal terlalu lama di gudang Anda.
Tanpa data yang akurat dan real-time, bisnis akan kesulitan mengidentifikasi produk yang berisiko menjadi beban holding cost sebelum benar-benar berdampak besar pada arus kas.
Mekari POS adalah sistem kasir terpusat yang dirancang untuk bisnis retail dan F&B, membantu Anda mengidentifikasi produk yang berpotensi menambah beban holding cost lebih awal. Berikut fitur yang bisa dimanfaatkan:
- Point of sales: Setiap transaksi tercatat otomatis, memberikan data akurat soal produk mana yang bergerak cepat dan mana yang mulai lambat terjual.
- Manajemen inventaris dan produk: Pantau pergerakan stok secara terpusat di setiap outlet, membantu Anda mendeteksi produk yang mulai menahan modal terlalu lama sebelum holding cost-nya membengkak.
- Laporan dan analisis bisnis: Bandingkan performa penjualan antarproduk dan antarperiode, membantu Anda mengambil tindakan seperti promosi atau penyesuaian pembelian lebih cepat sebelum biaya penyimpanan terus bertambah.
- Promosi dan membership: Jalankan diskon atau penawaran khusus langsung dari sistem yang sama begitu produk terindikasi mulai bergerak lambat, membantu membebaskan modal yang tertahan.
Siap kelola stok bisnis Anda dengan data yang lebih akurat untuk menekan holding cost? Mulai kelola transaksi dan operasional bisnis Anda dengan Mekari POS.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References
References
Netstock. “Inventory Holding Costs: How to Calculate and Reduce”
