- FIFO, LIFO, dan average adalah tiga metode penilaian persediaan yang menentukan biaya mana yang dibebankan ke harga pokok penjualan (HPP) dan mana yang tetap tercatat sebagai persediaan akhir.
- Ketiga metode dapat menghasilkan angka profit yang berbeda dari data pembelian dan penjualan yang sama persis, sehingga pemilihan metode bukan sekadar preferensi teknis, melainkan dapat mempengaruhi gambaran kesehatan finansial bisnis Anda.
- Mekari POS membantu bisnis mencatat detail harga per batch pembelian secara otomatis, sehingga data yang dibutuhkan untuk menerapkan metode penilaian stok pilihan Anda selalu akurat.
Menentukan metode penilaian stok bukan sekadar urusan pencatatan, karena pilihan metode dapat mempengaruhi nilai HPP, persediaan akhir, dan laba yang dilaporkan bisnis. Memahami perbedaan metode FIFO, LIFO, dan average membantu Anda memilih metode yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bisnis.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari pengertian ketiga metode tersebut, perbedaannya, contoh perhitungan, hingga cara memilih metode yang tepat untuk bisnis Anda.
Apa itu metode FIFO, LIFO, dan average?

FIFO, LIFO, dan average merupakan metode penilaian persediaan yang digunakan untuk menentukan biaya yang dialokasikan ke harga pokok penjualan (HPP) dan persediaan akhir.
FIFO (First In, First Out)
FIFO menganggap barang yang paling awal dibeli sebagai barang yang pertama kali terjual. Dengan demikian, barang yang masih tersimpan sebagai persediaan akhir umumnya berasal dari pembelian yang lebih baru, sehingga nilainya menggunakan biaya pembelian terbaru.
LIFO (Last In, First Out)
LIFO menggunakan pendekatan sebaliknya dari FIFO, yaitu menganggap barang yang paling baru dibeli sebagai barang yang pertama kali terjual. Karena barang terbaru dianggap keluar lebih dulu, persediaan yang masih tersisa di akhir periode umumnya menggunakan biaya pembelian yang lebih lama.
Average (rata-rata tertimbang)
Metode average menentukan nilai persediaan dengan menghitung biaya rata-rata tertimbang dari seluruh barang yang tersedia. Perhitungan ini mempertimbangkan jumlah unit dan harga dari setiap pembelian, kemudian menghasilkan satu biaya rata-rata yang digunakan untuk menentukan nilai HPP dan persediaan akhir.
Aturan ini berlaku untuk seluruh bisnis di Indonesia yang menyusun laporan keuangan sesuai standar PSAK, sehingga penting bagi Anda untuk memastikan metode yang digunakan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Karena PSAK di Indonesia mengacu pada IFRS, larangan LIFO ini konsisten dengan standar akuntansi internasional yang lebih luas, sehingga LIFO praktis hanya relevan bagi perusahaan yang beroperasi di bawah standar akuntansi negara lain seperti Amerika Serikat.
Perbedaan metode FIFO, LIFO, dan average
Selain memiliki cara kerja yang berbeda, FIFO, LIFO, dan average juga dapat menghasilkan dampak yang berbeda terhadap laporan keuangan.
Ketiganya juga memiliki ketentuan penggunaan yang berbeda, terutama antara standar akuntansi di Indonesia dan Amerika Serikat.
| Aspek | FIFO | LIFO | Average |
| Dampak saat harga naik | HPP lebih rendah, sehingga laba dan nilai persediaan lebih tinggi | HPP lebih tinggi, sehingga laba dan nilai persediaan lebih rendah | HPP dan nilai persediaan berada di antara FIFO dan LIFO |
| Kesesuaian dengan alur fisik barang | Cocok untuk barang dengan tanggal kedaluwarsa karena mencerminkan urutan stok yang biasanya dikeluarkan | Jarang mencerminkan urutan barang yang benar-benar dikeluarkan secara fisik | Tidak mengikuti alur fisik tertentu karena menggunakan biaya rata-rata |
| Legalitas di Indonesia (PSAK/IFRS) | Diperbolehkan | Tidak diperbolehkan | Diperbolehkan |
| Legalitas di Amerika Serikat (US GAAP) | Diperbolehkan | Diperbolehkan | Diperbolehkan |
| Stabilitas angka laba | Cenderung lebih fluktuatif karena mengikuti perubahan harga | Cenderung lebih fluktuatif karena mengikuti perubahan harga | Cenderung lebih stabil karena meredam dampak kenaikan dan penurunan harga |
Contoh perhitungan FIFO, LIFO, dan average
Untuk melihat perbedaan hasilnya secara konkret, berikut contoh perhitungan FIFO, LIFO, dan average menggunakan data pembelian yang sama.
Data pembelian:
| Batch | Jumlah Unit | Harga per Unit | Total Nilai |
|---|---|---|---|
| Batch 1 (paling lama) | 100 unit | Rp80.000 | Rp8.000.000 |
| Batch 2 | 150 unit | Rp90.000 | Rp13.500.000 |
| Batch 3 (paling baru) | 200 unit | Rp100.000 | Rp20.000.000 |
| Total tersedia | 450 unit | Rp41.500.000 |
Selama periode berjalan, sebanyak 380 unit terjual, sehingga tersisa 70 unit. Berikut perhitungan HPP dan persediaan akhir menggunakan masing-masing metode.
1. FIFO
Metode FIFO mengalokasikan barang yang terjual mulai dari batch paling lama. Batch 1 sebanyak 100 unit dan Batch 2 sebanyak 150 unit habis terjual. Kemudian, 130 unit sisanya diambil dari Batch 3.
HPP:
(100 × Rp80.000) + (150 × Rp90.000) + (130 × Rp100.000) = Rp34.500.000
Persediaan akhir:
70 unit sisa Batch 3 × Rp100.000 = Rp7.000.000
2. LIFO
Metode LIFO mengalokasikan barang yang terjual mulai dari batch paling baru. Batch 3 sebanyak 200 unit dan Batch 2 sebanyak 150 unit habis terjual. Kemudian, 30 unit sisanya diambil dari Batch 1.
HPP:
(200 × Rp100.000) + (150 × Rp90.000) + (30 × Rp80.000) = Rp35.900.000
Persediaan akhir:
70 unit sisa Batch 1 × Rp80.000 = Rp5.600.000
3. Average
Metode average menghitung biaya rata-rata tertimbang per unit dari seluruh barang yang tersedia. Biaya tersebut kemudian digunakan untuk menghitung HPP dan persediaan akhir.
Biaya rata-rata per unit:
Rp41.500.000 ÷ 450 unit = Rp92.222,22 per unit
HPP:
380 unit × Rp92.222,22 = Rp35.044.444
Persediaan akhir:
70 unit × Rp92.222,22 = Rp6.455.556
Ringkasan perbandingan hasil:
| Metode | HPP | Persediaan Akhir |
| FIFO | Rp34.500.000 | Rp7.000.000 |
| LIFO | Rp35.900.000 | Rp5.600.000 |
| Average | Rp35.044.444 | Rp6.455.556 |
Meskipun menggunakan data pembelian yang sama, ketiga metode menghasilkan nilai HPP dan persediaan akhir yang berbeda. Pada kondisi harga yang cenderung naik seperti contoh di atas:
- FIFO menghasilkan HPP paling rendah dan persediaan akhir paling tinggi
- LIFO menghasilkan HPP paling tinggi dan persediaan akhir paling rendah.
- Metode average menghasilkan nilai yang berada di antara keduanya.
Tips memilih metode persediaan yang tepat untuk bisnis
Beberapa faktor berikut dapat menjadi pertimbangan sebelum menentukan metode yang paling sesuai:
1. Stabilitas harga pembelian
Jika harga barang relatif stabil dari waktu ke waktu, metode average dapat menjadi pilihan karena perhitungannya sederhana dan membantu meredam fluktuasi harga.
2. Standar akuntansi yang berlaku
Bisnis di Indonesia yang mengikuti PSAK/IFRS tidak dapat menggunakan LIFO. Karena itu, pilihan metode penilaian persediaan umumnya adalah FIFO atau average.
3. Karakteristik dan masa simpan barang
Untuk bisnis yang menjual produk dengan masa simpan terbatas, seperti makanan atau kosmetik, FIFO dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai karena barang yang lebih dahulu masuk dialokasikan sebagai barang yang lebih dahulu terjual.
4. Dukungan sistem pencatatan
Pastikan software POS yang digunakan mendukung metode yang dipilih. Sistem yang sesuai dapat membantu menjaga konsistensi perhitungan HPP dan nilai persediaan, terutama ketika jumlah transaksi dan SKU semakin banyak.
Terapkan metode penilaian stok Anda secara konsisten dengan Mekari POS
Menghitung dan menerapkan metode FIFO, LIFO, maupun average secara manual bisa menjadi rumit begitu jumlah batch pembelian dan variasi harga terus bertambah, apalagi jika dilakukan untuk banyak produk sekaligus di berbagai outlet.
Tanpa data yang tercatat rapi sejak awal, penerapan metode penilaian stok apa pun berisiko menjadi tidak akurat, yang pada akhirnya berdampak pada laporan keuangan bisnis Anda secara keseluruhan.
Mekari POS adalah sistem kasir terpusat yang dirancang untuk bisnis retail dan F&B, membantu menyediakan data yang dibutuhkan untuk menerapkan metode penilaian stok pilihan Anda secara konsisten. Berikut fitur yang bisa dimanfaatkan:
- Manajemen produk: Atur katalog produk, SKU, kategori, dan varian dengan lebih rapi, sehingga setiap batch produk yang masuk mudah dilacak dan dibedakan berdasarkan harga pembeliannya, apa pun metode penilaian yang Anda gunakan.
- Manajemen inventaris: Pantau produk dan stok lebih akurat di setiap outlet dan gudang, memastikan data pembelian dan penjualan yang menjadi dasar perhitungan FIFO, LIFO, atau average selalu mencerminkan kondisi terkini.
- Integrasi native dengan Mekari Jurnal: Setiap transaksi penjualan dan pembelian stok otomatis tercatat langsung ke laporan keuangan, sehingga perhitungan HPP dan persediaan akhir tetap konsisten dari waktu ke waktu, mengikuti metode penilaian stok yang telah Anda tetapkan.
Siap kelola pencatatan stok bisnis Anda dengan data yang lebih akurat untuk mendukung metode penilaian stok pilihan Anda? Mulai kelola transaksi dan operasional bisnis Anda dengan Mekari POS.
References and methodology
Methodology
Methodology
Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.
Our editorial standards
Our editorial standards
- Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
- Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
- No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
- Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References
References
Investopedia. “Why Last In, First Out (LIFO) Is Banned Under IFRS.”
