6 mins read

Perbedaan Metode FIFO, LIFO, Average & Cara Menghitungnya

metode fifo lifo average
Mekari POS Insight
  • FIFO, LIFO, dan average adalah tiga metode penilaian persediaan yang menentukan biaya mana yang dibebankan ke harga pokok penjualan (HPP) dan mana yang tetap tercatat sebagai persediaan akhir.
  • Ketiga metode dapat menghasilkan angka profit yang berbeda dari data pembelian dan penjualan yang sama persis, sehingga pemilihan metode bukan sekadar preferensi teknis, melainkan dapat mempengaruhi gambaran kesehatan finansial bisnis Anda.
  • Mekari POS membantu bisnis mencatat detail harga per batch pembelian secara otomatis, sehingga data yang dibutuhkan untuk menerapkan metode penilaian stok pilihan Anda selalu akurat.

Menentukan metode penilaian stok bukan sekadar urusan pencatatan, karena pilihan metode dapat mempengaruhi nilai HPP, persediaan akhir, dan laba yang dilaporkan bisnis. Memahami perbedaan metode FIFO, LIFO, dan average membantu Anda memilih metode yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bisnis.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari pengertian ketiga metode tersebut, perbedaannya, contoh perhitungan, hingga cara memilih metode yang tepat untuk bisnis Anda.

Apa itu metode FIFO, LIFO, dan average?

FIFO, LIFO, dan average merupakan metode penilaian persediaan yang digunakan untuk menentukan biaya yang dialokasikan ke harga pokok penjualan (HPP) dan persediaan akhir. 

FIFO (First In, First Out)

FIFO menganggap barang yang paling awal dibeli sebagai barang yang pertama kali terjual. Dengan demikian, barang yang masih tersimpan sebagai persediaan akhir umumnya berasal dari pembelian yang lebih baru, sehingga nilainya menggunakan biaya pembelian terbaru.

LIFO (Last In, First Out)

LIFO menggunakan pendekatan sebaliknya dari FIFO, yaitu menganggap barang yang paling baru dibeli sebagai barang yang pertama kali terjual. Karena barang terbaru dianggap keluar lebih dulu, persediaan yang masih tersisa di akhir periode umumnya menggunakan biaya pembelian yang lebih lama.

Average (rata-rata tertimbang)

Metode average menentukan nilai persediaan dengan menghitung biaya rata-rata tertimbang dari seluruh barang yang tersedia. Perhitungan ini mempertimbangkan jumlah unit dan harga dari setiap pembelian, kemudian menghasilkan satu biaya rata-rata yang digunakan untuk menentukan nilai HPP dan persediaan akhir.

Berdasarkan PSAK 202 (sebelumnya PSAK 14) tentang Persediaan, biaya persediaan dapat dialokasikan menggunakan metode FIFO atau rata-rata tertimbang, sementara metode LIFO tidak diperbolehkan. – PwC Indonesia.

Aturan ini berlaku untuk seluruh bisnis di Indonesia yang menyusun laporan keuangan sesuai standar PSAK, sehingga penting bagi Anda untuk memastikan metode yang digunakan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

LIFO memang diperbolehkan di bawah standar US GAAP, namun dilarang di bawah IFRS karena berpotensi mendistorsi profitabilitas dan laporan keuangan perusahaan. – Investopedia.

Karena PSAK di Indonesia mengacu pada IFRS, larangan LIFO ini konsisten dengan standar akuntansi internasional yang lebih luas, sehingga LIFO praktis hanya relevan bagi perusahaan yang beroperasi di bawah standar akuntansi negara lain seperti Amerika Serikat. 

Perbedaan metode FIFO, LIFO, dan average

Selain memiliki cara kerja yang berbeda, FIFO, LIFO, dan average juga dapat menghasilkan dampak yang berbeda terhadap laporan keuangan. 

Ketiganya juga memiliki ketentuan penggunaan yang berbeda, terutama antara standar akuntansi di Indonesia dan Amerika Serikat. 

AspekFIFOLIFOAverage
Dampak saat harga naikHPP lebih rendah, sehingga laba dan nilai persediaan lebih tinggiHPP lebih tinggi, sehingga laba dan nilai persediaan lebih rendahHPP dan nilai persediaan berada di antara FIFO dan LIFO
Kesesuaian dengan alur fisik barangCocok untuk barang dengan tanggal kedaluwarsa karena mencerminkan urutan stok yang biasanya dikeluarkanJarang mencerminkan urutan barang yang benar-benar dikeluarkan secara fisikTidak mengikuti alur fisik tertentu karena menggunakan biaya rata-rata
Legalitas di Indonesia (PSAK/IFRS)DiperbolehkanTidak diperbolehkanDiperbolehkan
Legalitas di Amerika Serikat (US GAAP)DiperbolehkanDiperbolehkanDiperbolehkan
Stabilitas angka labaCenderung lebih fluktuatif karena mengikuti perubahan hargaCenderung lebih fluktuatif karena mengikuti perubahan hargaCenderung lebih stabil karena meredam dampak kenaikan dan penurunan harga

Contoh perhitungan FIFO, LIFO, dan average

Untuk melihat perbedaan hasilnya secara konkret, berikut contoh perhitungan FIFO, LIFO, dan average menggunakan data pembelian yang sama. 

Data pembelian:

BatchJumlah UnitHarga per UnitTotal Nilai
Batch 1 (paling lama)100 unitRp80.000Rp8.000.000
Batch 2150 unitRp90.000Rp13.500.000
Batch 3 (paling baru)200 unitRp100.000Rp20.000.000
Total tersedia450 unitRp41.500.000

Selama periode berjalan, sebanyak 380 unit terjual, sehingga tersisa 70 unit. Berikut perhitungan HPP dan persediaan akhir menggunakan masing-masing metode. 

1. FIFO

Metode FIFO mengalokasikan barang yang terjual mulai dari batch paling lama. Batch 1 sebanyak 100 unit dan Batch 2 sebanyak 150 unit habis terjual. Kemudian, 130 unit sisanya diambil dari Batch 3.

HPP:
(100 × Rp80.000) + (150 × Rp90.000) + (130 × Rp100.000) = Rp34.500.000

Persediaan akhir:
70 unit sisa Batch 3 × Rp100.000 = Rp7.000.000

2. LIFO

Metode LIFO mengalokasikan barang yang terjual mulai dari batch paling baru. Batch 3 sebanyak 200 unit dan Batch 2 sebanyak 150 unit habis terjual. Kemudian, 30 unit sisanya diambil dari Batch 1.

HPP:
(200 × Rp100.000) + (150 × Rp90.000) + (30 × Rp80.000) = Rp35.900.000

Persediaan akhir:
70 unit sisa Batch 1 × Rp80.000 = Rp5.600.000

3. Average

Metode average menghitung biaya rata-rata tertimbang per unit dari seluruh barang yang tersedia. Biaya tersebut kemudian digunakan untuk menghitung HPP dan persediaan akhir.

Biaya rata-rata per unit:
Rp41.500.000 ÷ 450 unit = Rp92.222,22 per unit

HPP:
380 unit × Rp92.222,22 = Rp35.044.444

Persediaan akhir:
70 unit × Rp92.222,22 = Rp6.455.556

Ringkasan perbandingan hasil:

MetodeHPPPersediaan Akhir
FIFORp34.500.000Rp7.000.000
LIFORp35.900.000Rp5.600.000
AverageRp35.044.444Rp6.455.556

Meskipun menggunakan data pembelian yang sama, ketiga metode menghasilkan nilai HPP dan persediaan akhir yang berbeda. Pada kondisi harga yang cenderung naik seperti contoh di atas: 

  • FIFO menghasilkan HPP paling rendah dan persediaan akhir paling tinggi
  • LIFO menghasilkan HPP paling tinggi dan persediaan akhir paling rendah.
  • Metode average menghasilkan nilai yang berada di antara keduanya.

Tips memilih metode persediaan yang tepat untuk bisnis 

Beberapa faktor berikut dapat menjadi pertimbangan sebelum menentukan metode yang paling sesuai: 

1. Stabilitas harga pembelian

Jika harga barang relatif stabil dari waktu ke waktu, metode average dapat menjadi pilihan karena perhitungannya sederhana dan membantu meredam fluktuasi harga. 

2. Standar akuntansi yang berlaku

Bisnis di Indonesia yang mengikuti PSAK/IFRS tidak dapat menggunakan LIFO. Karena itu, pilihan metode penilaian persediaan umumnya adalah FIFO atau average. 

3. Karakteristik dan masa simpan barang

Untuk bisnis yang menjual produk dengan masa simpan terbatas, seperti makanan atau kosmetik, FIFO dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai karena barang yang lebih dahulu masuk dialokasikan sebagai barang yang lebih dahulu terjual.

4. Dukungan sistem pencatatan

Pastikan software POS yang digunakan mendukung metode yang dipilih. Sistem yang sesuai dapat membantu menjaga konsistensi perhitungan HPP dan nilai persediaan, terutama ketika jumlah transaksi dan SKU semakin banyak.

Terapkan metode penilaian stok Anda secara konsisten dengan Mekari POS

Menghitung dan menerapkan metode FIFO, LIFO, maupun average secara manual bisa menjadi rumit begitu jumlah batch pembelian dan variasi harga terus bertambah, apalagi jika dilakukan untuk banyak produk sekaligus di berbagai outlet.

Tanpa data yang tercatat rapi sejak awal, penerapan metode penilaian stok apa pun berisiko menjadi tidak akurat, yang pada akhirnya berdampak pada laporan keuangan bisnis Anda secara keseluruhan.

Mekari POS adalah sistem kasir terpusat yang dirancang untuk bisnis retail dan F&B, membantu menyediakan data yang dibutuhkan untuk menerapkan metode penilaian stok pilihan Anda secara konsisten. Berikut fitur yang bisa dimanfaatkan:

  • Manajemen produk: Atur katalog produk, SKU, kategori, dan varian dengan lebih rapi, sehingga setiap batch produk yang masuk mudah dilacak dan dibedakan berdasarkan harga pembeliannya, apa pun metode penilaian yang Anda gunakan.
  • Manajemen inventaris: Pantau produk dan stok lebih akurat di setiap outlet dan gudang, memastikan data pembelian dan penjualan yang menjadi dasar perhitungan FIFO, LIFO, atau average selalu mencerminkan kondisi terkini.
  • Integrasi native dengan Mekari Jurnal: Setiap transaksi penjualan dan pembelian stok otomatis tercatat langsung ke laporan keuangan, sehingga perhitungan HPP dan persediaan akhir tetap konsisten dari waktu ke waktu, mengikuti metode penilaian stok yang telah Anda tetapkan.

Siap kelola pencatatan stok bisnis Anda dengan data yang lebih akurat untuk mendukung metode penilaian stok pilihan Anda? Mulai kelola transaksi dan operasional bisnis Anda dengan Mekari POS.

References and methodology

Methodology

Methodology

Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.

Our editorial standards

Our editorial standards

  • Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
  • Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
  • No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
  • Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References

References

PwC Indonesia. “PSAK Pocket Guide 2026.” 
Investopedia. “Why Last In, First Out (LIFO) Is Banned Under IFRS.” 

FAQ

1. Apa perbedaan metode FIFO, LIFO, dan average?

1. Apa perbedaan metode FIFO, LIFO, dan average?

FIFO mengasumsikan barang tertua dijual lebih dulu, LIFO mengasumsikan barang terbaru dijual lebih dulu, sementara average menghitung satu biaya rata-rata dari seluruh unit yang tersedia dan menerapkannya secara merata.

2. Metode mana yang menghasilkan laba lebih tinggi saat harga naik?

2. Metode mana yang menghasilkan laba lebih tinggi saat harga naik?

 FIFO umumnya menghasilkan laba kotor yang lebih tinggi saat harga sedang naik, karena HPP dihitung menggunakan biaya pembelian lama yang lebih rendah, sementara LIFO menghasilkan laba yang lebih rendah pada kondisi yang sama.

3. Bagaimana cara memilih antara FIFO, LIFO, dan average?

3. Bagaimana cara memilih antara FIFO, LIFO, dan average?

Pertimbangkan apakah harga pembelian Anda stabil, apakah standar akuntansi yang berlaku melarang LIFO, apakah produk Anda sensitif terhadap kedaluwarsa, serta apakah sistem yang Anda gunakan mendukung metode tersebut dengan baik.

4. Bagaimana Mekari POS membantu penerapan metode penilaian stok bisnis?

4. Bagaimana Mekari POS membantu penerapan metode penilaian stok bisnis?

Mekari POS membantu mencatat setiap transaksi pembelian dan penjualan secara otomatis, termasuk detail harga per batch pembelian, sehingga data yang dibutuhkan untuk menerapkan metode penilaian stok pilihan Anda selalu akurat dan konsisten.