6 mins read

LIFO dalam Akuntansi: Cara Kerja, Contoh, dan Perbedaannya dengan FIFO

Last in first out adalah
Mekari POS Highlights
  • LIFO (Last In First Out) adalah metode asumsi arus biaya dalam akuntansi persediaan, di mana barang yang terakhir masuk dianggap sebagai yang pertama terjual.
  • LIFO tidak diperbolehkan untuk pelaporan keuangan di Indonesia sesuai PSAK 14, dan bahkan secara global hanya Amerika Serikat yang mengizinkan korporasi memakai metode ini.
  • Mekari POS mendukung pencatatan stok dengan metode FIFO yang sesuai standar akuntansi Indonesia, sehingga nilai persediaan dan HPP tetap akurat dan patuh regulasi.

Saat mempelajari metode penilaian persediaan, banyak pemilik bisnis menemukan istilah Last In, First Out (LIFO) berdampingan dengan FIFO. Hal ini sering menimbulkan anggapan bahwa keduanya dapat digunakan secara bebas dalam penyusunan laporan keuangan, padahal kenyataannya tidak demikian.

LIFO adalah metode penilaian persediaan yang tidak lagi diperbolehkan untuk pelaporan keuangan di Indonesia sesuai dengan ketentuan PSAK. Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari pengertian LIFO, cara kerjanya, kelebihan dan kekurangannya, alasan metode ini tidak digunakan di Indonesia, serta perbedaannya dengan FIFO yang menjadi standar dalam pencatatan persediaan.

Apa itu LIFO (Last In First Out)?

LIFO (Last In First Out) adalah metode asumsi arus biaya dalam akuntansi persediaan, di mana barang yang terakhir masuk ke gudang dianggap sebagai barang yang pertama kali terjual atau digunakan. Asumsi ini memengaruhi bagaimana harga pokok penjualan dan nilai persediaan akhir dihitung dalam laporan keuangan.

Penting dipahami bahwa LIFO adalah asumsi arus biaya, bukan arus fisik barang yang sesungguhnya. Artinya, secara pencatatan akuntansi barang terbaru dianggap terjual lebih dulu, meskipun secara fisik barang yang benar-benar keluar dari gudang bisa saja berbeda urutannya.

Metode LIFO banyak digunakan untuk melihat pengaruh perubahan harga terhadap biaya persediaan dan laba perusahaan. Oleh karena itu, pemilihan metode ini perlu disesuaikan dengan karakteristik bisnis serta standar akuntansi yang berlaku. 

Cara kerja metode LIFO

Metode LIFO (Last In, First Out) menghitung harga pokok penjualan (HPP) dengan menganggap barang yang terakhir dibeli sebagai barang yang pertama dijual. Dengan kata lain, biaya pembelian yang paling baru akan lebih dulu digunakan dalam perhitungan HPP, terlepas dari urutan fisik barang yang keluar dari gudang.

Sebagai ilustrasi, bayangkan sebuah bisnis membeli stok dalam beberapa tahap dan harga pembelian terus meningkat. Ketika terjadi penjualan, sistem LIFO akan menggunakan harga pembelian terbaru sebagai dasar perhitungan HPP. 

Sementara itu, stok yang dibeli lebih awal tetap tercatat sebagai persediaan akhir dengan nilai historisnya. Akibatnya, nilai persediaan di laporan keuangan bisa berbeda cukup jauh dari harga pasar saat ini, terutama ketika terjadi kenaikan harga yang signifikan.

Kelebihan dan kekurangan LIFO

Meskipun LIFO sudah tidak diperbolehkan untuk pelaporan keuangan di Indonesia, memahami kelebihan dan kekurangannya tetap penting, terutama untuk memahami perbedaannya dengan metode lain seperti FIFO.

1. Kelebihan metode LIFO

Salah satu keunggulan LIFO adalah penggunaan harga pembelian terbaru sebagai dasar perhitungan harga pokok penjualan (HPP). Saat harga barang mengalami kenaikan, pendekatan ini membuat HPP menjadi lebih tinggi sehingga laba yang dilaporkan cenderung lebih rendah. Di negara yang masih mengizinkan LIFO, kondisi tersebut dapat membantu perusahaan mengurangi beban pajak karena pajak dihitung berdasarkan laba yang lebih kecil.

Selain itu, LIFO juga dianggap mampu mencerminkan biaya penggantian (replacement cost) yang lebih mendekati kondisi pasar saat ini. Dengan menggunakan biaya pembelian terbaru dalam perhitungan HPP, perusahaan dapat melihat dampak kenaikan harga terhadap biaya operasional secara lebih realistis.

2. Kekurangan metode LIFO

Di sisi lain, LIFO membuat nilai persediaan akhir yang tercatat di laporan keuangan menjadi kurang mencerminkan harga pasar terkini. Hal ini terjadi karena barang yang lebih lama dibeli tetap tercatat sebagai persediaan dengan nilai yang sudah tidak lagi relevan terhadap kondisi harga saat ini.

Keterbatasan lainnya adalah LIFO tidak diakui oleh International Financial Reporting Standards (IFRS) yang menjadi dasar penyusunan PSAK di Indonesia. Akibatnya, metode ini tidak dapat digunakan dalam penyusunan laporan keuangan oleh perusahaan di Indonesia maupun di sebagian besar negara lain yang telah mengadopsi IFRS.

Selain aspek pelaporan, penggunaan LIFO juga dapat menyulitkan perbandingan kinerja keuangan antarperusahaan. Karena sebagian besar bisnis menggunakan FIFO atau metode rata-rata tertimbang, laporan keuangan yang disusun dengan LIFO cenderung kurang konsisten jika dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama.

Seberapa umum LIFO digunakan saat ini

Meski dikenal luas sebagai salah satu metode penilaian persediaan, penggunaan LIFO saat ini sebenarnya jauh lebih terbatas dibandingkan FIFO.

Data Insight

Amerika Serikat adalah satu-satunya negara di dunia yang masih mengizinkan korporasi menggunakan metode LIFO untuk pelaporan keuangan. –Investopedia

Kondisi ini terjadi karena sebagian besar negara telah mengadopsi International Financial Reporting Standards (IFRS), yaitu standar akuntansi internasional yang tidak memperbolehkan penggunaan LIFO. Sementara itu, Amerika Serikat masih menggunakan standar akuntansi US GAAP, yang hingga kini tetap mengizinkan metode tersebut.

Meski masih legal di Amerika Serikat, LIFO ternyata bukan pilihan utama bagi sebagian besar perusahaan.

Data Insight

Hanya sekitar 16% perusahaan dalam indeks S&P 500 yang masih menggunakan metode LIFO, sedangkan 53% memilih FIFO.–CFO Brew

Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan lebih memilih FIFO karena lebih sederhana diterapkan, mencerminkan nilai persediaan yang lebih mendekati kondisi aktual, serta memudahkan penyusunan laporan keuangan bagi perusahaan yang beroperasi secara global dan harus menyesuaikan diri dengan standar IFRS.

Perbedaan LIFO dan FIFO

FIFO dan LIFO sama-sama digunakan dalam pengelolaan persediaan, tetapi tidak semua metode dapat diterapkan di setiap negara. Di Indonesia, FIFO menjadi metode yang lebih umum digunakan. Untuk memahami alasannya, simak perbandingan FIFO dan LIFO berikut ini.

AspekLIFOFIFO
PrinsipBarang terakhir masuk, pertama keluarBarang pertama masuk, pertama keluar
Dampak saat inflasiHPP lebih tinggi, laba lebih kecilHPP lebih rendah, laba lebih besar
Nilai persediaan akhirCenderung usang, kurang relevan dengan harga pasarLebih mendekati harga pasar terkini
Status di IndonesiaDilarang berdasarkan PSAK 14Diperbolehkan dan lazim digunakan

Kelola persediaan bisnis Anda dengan metode yang tepat bersama Mekari POS

Memilih metode pencatatan persediaan yang sesuai tidak hanya membantu menjaga akurasi stok, tetapi juga memastikan laporan keuangan disusun mengikuti standar akuntansi yang berlaku. Dengan sistem yang tepat, bisnis dapat menghitung harga pokok penjualan (HPP), memantau nilai persediaan, dan mengelola operasional dengan lebih efisien tanpa harus melakukan pencatatan manual.

Mekari POS hadir sebagai sistem POS terpusat yang membantu bisnis retail dan F&B mengelola persediaan menggunakan pendekatan FIFO, sesuai dengan ketentuan PSAK 14 yang berlaku di Indonesia. 

Setiap transaksi penjualan maupun perubahan stok akan tercatat secara otomatis sehingga data persediaan dan HPP selalu diperbarui secara real-time. Hasilnya, pemilik bisnis dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang lebih akurat sekaligus mengurangi risiko kesalahan pencatatan.

Selain membantu pengelolaan persediaan yang sesuai standar, Mekari POS juga dilengkapi berbagai fitur untuk mendukung operasional bisnis, antara lain:

  • Transaksi cepat dan akurat: Proses pesanan dan pembayaran lebih praktis dalam satu alur kerja sehingga transaksi dapat diselesaikan lebih cepat dan minim kesalahan.
  • Manajemen stok real-time: Pantau ketersediaan stok di setiap outlet secara langsung untuk membantu menjaga akurasi persediaan dan mendukung perhitungan HPP.
  • Laporan bisnis otomatis: Akses laporan penjualan, performa produk, dan ringkasan operasional secara real-time tanpa perlu merekap data secara manual.
  • Program loyalitas pelanggan: Tingkatkan pembelian berulang melalui fitur membership, poin, dan promo yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
  • Integrasi ekosistem Mekari: Sinkronkan data transaksi dengan Mekari Jurnal untuk pembukuan yang lebih otomatis serta Mekari Desty untuk mendukung penjualan omnichannel.
  • Manajemen multicabang: Kelola stok, harga, dan performa seluruh outlet dari satu dashboard sehingga operasional bisnis tetap terkendali meskipun memiliki banyak cabang.

Siap mengelola persediaan bisnis Anda dengan metode yang tepat dan sesuai standar akuntansi Indonesia? Mulai kelola stok dan laporan bisnis Anda dengan Mekari POS!

References and methodology

Methodology

Methodology

Articles published by Mekari POS are developed using trusted sources, including official data, company reports, academic research, and insights from industry practitioners. Whenever possible, we refer directly to primary sources before drawing conclusions. Our editorial team reviews and verifies the information to ensure accuracy and relevance. All references are listed so readers can trace each piece of information back to its original source.

Our editorial standards

Our editorial standards

  • Primary source first: We consult official product documentation and pricing pages directly, not secondhand summaries or aggregator sites.
  • Fact-checking: All product features, pricing, and claims are cross-verified against each platform’s official website at the time of writing.
  • No paid placement: Tools are selected based on relevance and fit for Indonesian businesses, not commercial arrangements. Mekari Officeless is included as a first-party product and is transparently labeled as such.
  • Regular review: Articles are periodically updated to reflect product changes or shifts in market relevance.
References

References

BINUS School of Information Systems. “Metode LIFO (Last In First Out)”
OCBC. “FIFO Adalah: Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya”
Investopedia. “Last In, First Out (LIFO): Definition and Effect on Inventory Valuation Methods”
Inbound Logistics. “What Is LIFO?”
CFO Brew. “More Firms Drop LIFO Amid Inflation, Low Taxes”

FAQ

1. LIFO adalah apa?

1. LIFO adalah apa?

LIFO atau Last In First Out adalah metode asumsi arus biaya dalam akuntansi persediaan, di mana barang yang terakhir masuk dianggap sebagai barang yang pertama kali terjual atau digunakan.

2. Apakah LIFO boleh digunakan di Indonesia?

2. Apakah LIFO boleh digunakan di Indonesia?

Tidak, LIFO tidak diperbolehkan untuk pelaporan keuangan di Indonesia berdasarkan PSAK 14 tentang Persediaan yang telah diselaraskan dengan standar IFRS.

3. Apa perbedaan LIFO dan FIFO?

3. Apa perbedaan LIFO dan FIFO?

LIFO mengasumsikan barang terakhir masuk terjual lebih dulu sehingga menghasilkan HPP lebih tinggi saat inflasi, sementara FIFO mengasumsikan barang pertama masuk terjual lebih dulu sehingga nilai persediaan akhir lebih mendekati harga pasar terkini.

4. Apa kelebihan dan kekurangan metode LIFO?

4. Apa kelebihan dan kekurangan metode LIFO?

Kelebihan LIFO adalah dapat mengurangi laba kena pajak saat inflasi, sementara kekurangannya adalah nilai persediaan akhir menjadi kurang relevan dengan harga pasar dan metode ini tidak diakui oleh standar IFRS.